Rabu, 09 Januari 2013

uas gulma



PENGENDALIAN GULMA SECARA KULTUR TEKNIS

METODE PENGENDALIAN
Kultur Teknis
Mekanis

q  Pengelolaan gulma bertujuan untuk membatasi atau mengurangi pertumbuhan dan penyebaran gulma.
q  Pengelolaan gulma meliputi tindakan : 
q  pencegahan (prevention),
q  pengendalian (control)
q  pemanfaatan gulma. 

TINDAKAN PENCEGAHAN (PREVENTIF)
TUJUAN : untuk membatasi atau mengurangi pertumbuhan dan penyebaran gulma sehingga usaha pengendalian terhadap gulma yang tumbuh menjadi seminimal mungkin atau ditiadakan (tidak perlu dilakukan). 

q  Tindakan pencegahan didasarkan pada tahapan perkembangan gulma yaitu perkecambahan, pertumbuhan, pendewasaan, dan reproduksi.
q  Berdasarkan tahapan tersebut, pendekatan pencegahan gulma meliputi :
q  mengurangi jumlah propagule yang diproduksi gulma,
q  mengurangi jumlah gulma yang berkecambah,
q  meminimalkan kompetisi yang terjadi antara tanaman dan gulma. 

TINDAKAN PREVENTIF YANG DIANJURKAN
Pengolahan tanah sebelum tanam
q  mempengaruhi regrowth dan seed bank.
q  tindakan pencegahan dan sekaligus pengendalian
q  mematikan gulma yang sudah tumbuh, menumbuhkan biji gulma yang dorman
q  Gulma terpotong-potong, ukuran propagule kecil sehingga tidak cukup untuk perkembangbiakan
q  perlu dilakukan beberapa kali dengan interval waktu yang cukup lama agar biji dorman sempat tumbuh, kemudian  dimatikan pada pengolahan berikutnya.

Pergiliran tanaman
q  ada suatu kenyataan bahwa setiap jenis tanaman budidaya biasanya tumbuh berasosiasi dengan gulma / kelompok gulma tertentu.
q  pergiliran tanaman akan mencegah dominasi spesies gulma/kelompok gulma pada daerah pertanaman.
q  Mahfudz (2005) : perubahan pola tanam dari monokultur jagung, tumpangsari jagung-kakao hingga menjadi monokultur kakao menyebabkan jumlah jenis gulma berkurang dan komunitas gulma cenderung didominasi oleh Paspalum conjugatum; merubah komposisi jenis gulma dominan, dari jenis gulma berdaun lebar digantikan oleh gulma golongan rumput.

Ball dan Miller (1993)
q  menemukan 190 jenis gulma pada pola monokultur jagung selama 5 tahun,
q  245 jenis gulma pada pola rotasi Phaseolus vulgaris (2 tahun)-jagung (3 tahun). 
q  Perbedaan jenis gulma dominan.  Gulma Setaria viridis merupakan gulma dominan pada pertanaman jagung terus menerus, sedangkan gulma Amaranthus retroflexus merupakan gulma dominan pada rotasi P.vulgaris - jagung.

Pengunaan benih bersertifikat
q  menghindarkan penyebaran biji gulma via benih
q  diberbagai Negara ada undang-undang / peraturan yang mengatur mutu benih yang dapat diperdagangkan yaitu peraturan sertifikasi benih.
q  di Amerika Serikat :
q  Benih berukuran kecil seperti alfafa, sweet clover, millet, dll dilarang diperdagangkan bila dalan 10 g contoh terdapat lebih dari 1 biji gulma yang berbahaya.
q  benih (biji) berukuran besar seperti jagung, wheat, barley, dll : 1 biji gulma /100 g contoh

Sistem pertanaman
q  Penggenangan pada padi sawah yang memberikan kondisi anaerob membatasi gulma-gulma yang memerlukan kondisi aerob untuk perkecambahan dan pertumbuhannya.
q  Penggenangan 5 – 15  cm menekan perkecambahan biji-biji gulma teki dan rumput, gulma golongan berdaun lebar tidak tertekan (Soerjani, et. al., 1977).  
q  penggenangan 5 – 10  cm : gulma teki tertekan, penggenangan 10 – 15  cm: gulma rumput tertekan, penggenangan 10 – 15  cm : teki tertekan 3 – 6  kali (Bangun, 1981). 
q  Penggenangan 2.5 cm :
q   menekan bobot kering gulma total sebesar 76.0%
q   menurunkan penutupan gulma total sebesar 23.5%
q   Bobot kering Monochoria vaginalis
                                                                        (Rusyadi, 1993)
q  Pramudyani et al (2005) penggenangan dapat menekan pertumbuhan gulma Frimbistylis miliacea pada padi sawah.  Semakin tinggi penggenangan, gulma F. miliacea semakin tertekan yang ditunjukkan dengan jumlah anakan gulma F. miliacea yang semakin rendah.

q  Pemrosesan makanan ternak yang berasal dari hasil tanaman, biji jerami à mematikan biji gulma yang tercampur dalam makanan ternak.
q  Menghindarkan penggunaan pupuk kandang yang belum mengalami proses fermentasi yang sempurna.
q  Perpindahan ternak maupun alat-alat pertanian jangan sampai menjadi sarana penyebar biji gulma berbahaya.
q  Pinggir sungai atau saluran irigasi perlu dibersihkan dari gulma-gulma berbahaya.
q  Mencegah terjadinya biji gulma dengan mengadakan pengendalian / pembabatan sebelum gulma menghasilkan biji yang mampu berkecambah dan tumbuh.
q  Secara legislatif (perundang-undangan) yang mengatur atau membatasi transportasi / penyebaran gulma di dalam maupun ke luar suatu daerah / Negara.

TINDAKAN PENGENDALIAN
q  Suatu usaha untuk membatasi atau menekan infestasi gulma sampai tingkat tertentu sehingga pengusahaan tanaman budidaya menjadi produktif dan efisien.
q  Pengendalian gulma dapat dilakukan secara mekanis, kultur teknis, biologis (hayati), kimia (penggunaan herbisida), dan terintegrasi (terpadu).
q  Tindakan pencegahan dan pengendalian bersifat komplementer.           

PENGENDALIAN GULMA SECARA MEKANIS
q  Pengendalian gulma dengan menggunakan alat-alat sederhana hingga alat-alat mekanis berat untuk merusak atau menekan pertumbuhan gulma secara fisik.
q  Berdasarkan alat yang digunakan :
q  Manual (tenaga manusia) : tanpa alat / alat-alat sederhana seperti parang, arit, kored, dll.
q  Semi mekanis : tenaga manusia memakai mesin ringan seperti mower (pemotong rumput).
q  Mekanis penuh memakai alat-alat mesin berat seperti traktor besar, dll.

1. Mencabut gulma
q  Lebih sesuai untuk gulma setahun
q  Tidak efektif dan sukar dilaksanakan terhadap gulma yang mempunyai rhizoma, stolon atau umbi, karena bagian-bagian tersebut segera dapat tumbuh kembali membentuk tumbuhan baru.
q  Memerlukan tenaga menusia dan waktu yang banyak, à luas garapan petani hanya "< 1 ha / keluarga
q  Menimbulkan gangguan yang minim terhadap tanaman à pada percobaan-percobaan pengendalian gulma biasanya digunakan sebagai perlakuan pembanding.

2. Membabat gulma / memangkas / mowing
q  Dari aspek konservasi tanah dan pencegahan erosi merupakan cara yang lebih baik dibandingkan dengan berbagai cara lainnya.
q  Waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan sifat gulma yang dihadapi à hubungannya dengan masa pembentukan biji gulma.
q  Banyak diterapkan pada perkebunan besar, perkebunan rakyat, bidang hortilultura (kabun buah-buahan, tanaman pekarangan).
q  Pada tanaman ber-perakaran dangkal (nenas, pisang, kelapa) pengaruh gulma masih terlihat.

3.  Pengolahan tanah
q  Efektif untuk gulma setahun meupun gulma tahunan, namun cara pelaksanaannya tidak sama.
q  Untuk gulma setahun (semusim) à reproduksi berupa biji : pengolahan tanah secara dangkal beberapa kali dengan interval yang cukup untuk menumbuhkan biji gulma yang terangkat ke permukaan tanah.
q  Untuk gulma tahuan à selain biji, organ reproduksi vegetatif seperti rhizoma, stolon, umbi sangat berperan : Pengolahan yang dalam diikuti pengolahan dangkal beberapa kali dengan interval waktu yang cukup untuk menumbuhkan biji dan propagula vegetatif.
q  Dalam pelaksanaan pengolahan tanah pemadatan tanah harus dihindarkan, bahaya erosi diperhitungkan, kadar air tanah yang sesuai pada saat pengolahan tanah.

4. Menginjak dan membenamkan gulma
q  pada pertanian padi sawah secara tradisional dibeberapa derah masih dilakukan.
q  gulma diinjak dan dibenamkan memakai tenaga hewan ternak maupun manusia.

5.  Penggunaan api
q  Ada efek positif : tak ada efek samping residu seperti halnya pada pemakaian herbisida, pengganggu lainnya seperti hama, penyakit dapat ikut mati.
q  Gulma mati karena terbakar hangus dan karena koagulasi protein pada tumbuhan gulma. Koagulasi protein terjadi bila terkena panas dengan suhu 45 - 55° C.
q  Menimbulkan masalah ”ekspor asap”

PENGENDALIAN GULMA SECARA KULTUR TEKNIS
PENGENDALIAN SECARA KULTUR TEKNIS
q  Didasarkan pada segi ekologis tanaman dan gulma.
q  Membuat lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat bersaing dengan gulma, dilain pihak tindakan yang diterapkan tersebut mengurangi atau menekan pertumbuhan gulma menjadi seminimum mungkin.
q  Cara yang efektif dan efisien di negara sedang berkembang yang belum menggunakan herbisida secara meluas – harga herbisida relatif mahal.

Berbagai tinadakan yang tercakup dalam metoda ini adalah :
ü  Pergiliran tanaman (rotasi) : menghindarkan dominasi kelpmpok gulma tertentu.
ü  Pengolahan tanah : memperoleh media tumbuh yang baik bagi tanaman dan mematikan gulma yang sudah tumbuh serta menumbuhkan biji gulma yang dorman.
ü  Pemakaian benih / bibit yang baik : agar tanaman dapat bersaing dengan gulma yang tumbuh kemudian
ü  Pemupukan yang sesuai : agar tanaman tumbuh baik dan kuat
ü  Penyiangan : menghilangkan adanya kompetisi antara gulma dengan tanaman
ü  Pengaturan jarak tanaman yang tepat : memanfaatkan unsur hara dan cahaya sebaik-baiknya bagi tanaman budidaya.
ü  Kompetisi tanaman : penanaman penutup tanah LCC untuk menekan pertumbuhan gulma tanpa menimbulkan persaingan yang berat terhadap tanaman pokok, bahkan dalam beberapa segi dapat memberikan efek positif.
ü  Penggenangan padi sawah : penggenangan 5-7 cm optimum bagi pertumbuhan padi sementara hal itu telah menekan pertumbuhan gulma-gulma tertentu.
ü  Penggunaan mulsa : menekan pertumbuhhan gulma serta memberikan berbagao efek positif bagi tanaman.





Pengendalian Gulma secara Biologi (Hayati)

Pengendalian Gulma secara Biologi
Pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain berupa binatang ataupun tumbuhan berderajat rendah hingga berderajat tinggi, misalnya : cendawan, bakteri, tumbuhan/tanaman berderajat tinggi, binatang / hewan ternak

Dasar Pemikiran
bahwa setiap spesies tumbuhan (gulma) secara alami mempunyai musuh alami tertentu.  Dalam keadaan tidak terganggu, antara tumbuhan dengan musuh alaminya berada dalam keadaan keseimbangan

Tujuan Pengendalian
menekan populasi gulma dengan musuh alami hingga tingkat tertentu sehingga secara ekologi maupun ekonomi keberadaan gulma sudah tidak merugikan. Keadaan tersebut dapat dipertahankan dan berlaku untuk jangka panjang sehingga usaha pengendalian lain tidak diperlukan
Pengendalian biologi memerlukan beberapa tahapan penelitian dan pengujian, memerlukan waktu yang panjang, dana yang besar pada tahap awal, pengetahuan yang luas mengenai gulma dan musuh alaminya (sarana pengendalian/agensia pengendalian biologi)

q  KLASIFIKASI MUSUH ALAMI
q  METODOLOGI
q  TAHAPAN DALAM PROYEK PENGENDALIAN GULMA SECARA BIOLOGIS (9 TAHAP)
q  KEKHUSUSAN INANG


KLASIFIKASI MUSUH ALAMI

Berdasarkan Tumbuhan Inang (host)
1.  Monophag
Hanya mempunyai 1 spesies tumbuhan inang à populasinya terbatas karena makanannya terbatas
Contoh :
Proxenus hennia : diuji terhadap 26 spesies yang terdiri dari 13 famili, ternyata hanya dapat hidup pada kayu apu (Pistia stratiotes)

2.      Olygophag atau Stenophag
Musuh alami yang mempunyai inang beberapa spesies/varietas tumbuhan dalam beberapa golongan yang beragam
Stenophag
Terbatas pada beberapa varietas dalam 1 spesies
Contoh
Teleonemia scrupulosa dapat hidup pada Lantana camara berbunga ungu dan merah. Pada varietas berbungan putih tidak mau berkembang
Stenophag
Terbatas pada beberapa spesies dalam 1 genus atau genus lain yang sangat erat hubungan taksonominya
Contoh
Dactylopius tomentosus hanya dapat hidup pada spesies Opuntia spp. (kaktus)
Stenophag
Terbatas pada beberapa spesies dalam beberapa famili
Contoh
Ammalo innulata digunakan dalam pengendalian Chromolaena odorata dan C. Adenophorum dalam famili Compositae, juga dapat hidup pada beberapa spesies lain dalam famili Compositae dan famili Rutaceae

3.      Polyphag
musuh alami yang dapat hidup pada inang yang sangat beragam. Selain tumbuhan inang pokok ada banyak tumbuhan inang lainnya yang dapat digunakan untuk hidup dan berkembang biak
Contoh
- Gesonula punctifrons
- Ctenopharingodon idella (karpet rumput)

Dalam pengendalian gulma darat lebih diinginkan musuh alami dengan inang yang lebih spesifik untuk mencegah kemungkinan penggunaan tanaman menjadi inang musuh alami
Sebaliknya untuk pengendalian gulma air pada saluran irigasi atau perairan lainnya lebih diinginkan yang bersifat polyphag

Syarat Jenis Musuh Alami Yang Efektif dan Baik
1.      Menyukai gulma sasaran sebagai inangnya dan tidak membahayakan jenis tanaman budidaya
2.      Mampu menimbulkan kerusakan dan menekan populasi gulma sasaran pada tingkat populasi yang rendah
3.      Mampu berbiak secara cepat dan beradaptasi dengan kondisi ekologis dimana musuh alami digunakan

METODOLOGI
q  Metode Klasik dan Metode Pelimpahan Populasi Agensia (musuh alami)
q  Metode Klasik yaitu pengendalian biologis dengan cara mendatangkan jenis musuh alami ke daerah penyebaran gulma
q  Metode Pelimpahan Populasi adalah pengendalian biologi dengan meningkatkan peranan musuh alami dalam penekanan gulma

Salah satu jenis agensia musuh alami yang digunakan adalah jamur penyebab penyakit (pathogen) pada gulma. Agensia yang berupa jamur untuk pengendalian gulma dikenal dengan MIKOHERBISIDA (MYCOHERBICIDE)
AUGMENTASI
Kegiatan membanjiri dengan agensia musuh alami untuk pengendalian suatu gulma. 
Augmentasi dilakukan jika suatu jeis agensia belum/tidak dapat beradaptasi dengan kondisi yang baru sehingga dalam musim tertentu populasinya menurun sampai pada tingkat yang cukup rendah, sementara populasi gulma masih tinggi

TAHAPAN PROYEK PENGENDALIAN GULMA SECARA BIOLOGIS
1.      Penelusuran informasi tentang status taksonomi dan penyebaran gulma sasaran
Dalam tahap awal ini dilakukan pengamatan lapang tentang tingkat populasinya di daerah asal, kemudian dibandingkan dengan di daerah penyebarannya yang baru (di luar asal)
2. Penelusuran informasi tentang jenis-jenis musuh alami gulma sasaran dan pencarian musuh alami yang potensial khususnya di daerah asal
3.      Pengkajian aspek biologis, kekhususan inang dan ekologis musuh alami yang potensial di daerah asal
4.      Pemilihan diantara jenis musuh alami potensial dan pengajuan ijin impor (pemasukan ke dalam daerah dimana gulma akan dikendalikan) untuk penelitian lebih lanjut dalam kondisi karantina
5.      Pengadaptasian dan pemantapan musuh alami terpilih di dalam kondisi karantina di daerah negara pengimpor
6.      Pengamatan secara seksama pada kondisi karantina atas kemungkinan terbawanya jenis parasitoid dan atau patogen bersama-sama agensia yang diimpor. 
1.      Apabila ternyata kedapatan jenis parasitoid dan atau patogen bawaan maka dilakukan pembasmian dan sebaiknya impor ulang dilakukan secara lebih waspada
2.      Apabila memungkinkan dan ada jaminan, penyeleksian diantara individu agensia yang bebas dari parasitoid dan atau patogen masih dapat digunakan sebagai kajian selanjutnya
7.      Kajian aspek biologis dan kekhususan inang dalam kondisi karantina di negara pengimpor
8.      Pengajuan ijin pelepasan agensia ke lapangan apabila hasil kajian pada tahap kegiatan ketujuh menunjukkan bahwa agensia yang bersangkutan tidak memiliki indikasi akan mengancam tanaman budidaya/ekonomis
9.      Pembiakan, penyebaran/pelepasan, pemantauan pemantapan adaptasi dan efektivitas agensia di lapangan

Jenis tumbuhan yang akan diuji terhadap musuh alami harus dipilih dengan kriteria :
1.      Memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan gulma sasaran misalnya varietas lain atau spesies lain dalam genus atau suku yang sama
2.      Telah diketahui sebelumnya sebagai salah satu inang alternatif bagi agensia yang bersangkutan
3.      Merupakan inang jenis agensia perusak yang memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan calon musuh alami
4.      Hubungan kekerabatannya tidak jelas tetapi memiliki sifat biokemis atau bentuk (morfologis) yang sama atau sangat mirip dengan gulma sasaran
5.      Beberapa jenis tanaman budidaya/ekonomis yang umum tumbuh di lingkungan gulma sasaran
Prinsip : Makin jauh hubungan kekerabatannya dengan gulma sasaran, jumlah wakil jenis tumbuhan yang harus diuji makin sedikit
Taliputri untuk Pengendalian Hayati Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit

Pendahuluan
         Mikania micrantha salah satu gulma penting di perkebunan kelapa sawit
         Berasal dari Amerika Latin
         Kerugian 20% produksi

Actinote anteas
ulat pemakan daun gulma C. odorata dan M. micrantha

Cuscuta campestris
Taliputri
         Tanaman parasitik
         Lebih dari 150 jenis
         Untuk hiasan pagar, merusak tanaman
         Peluang sebagai agens biologi

Penelitian
         Determinasi Taliputri di SUMUT
         Perkecambahan dan pertumbuhan
         Penyebaran di Mikania micrantha
         Selektivitas pada tanaman
         Pengaruh pada tanaman penutup tanah

Seleksi Agen
Seleksi agen merupakan langkah kritis dan pemilihan agen terbaik merupakan tujuan utama. Biasanya, setiap agen yang diuji dan diintroduksi membutuhkan tiga tahun pengujian yang membutuhkan dukungan teknik dan fasilitas yang cukup mahal. Karena mahalnya biaya untuk melepas suatu agen, maka harus dipilih agen yang memiliki potensi sukses dalam pengendalian.

Uji Kekhususan Inang
Mengingat musuh alami yang akan digunakan untuk pengendalian adalah organisme pemakan tumbuhan maka sangat beralasan bahwa ada kekuatiran besar atas kemungkinan selama perjalanan waktu terjadi perubahan status musuh alami menjadi agen perusak (hama) tanaman budidaya. Perhatian bukan hanya ditujukan pada masalah potensi merusak, tapi juga pada pemilihan agen polifag, bahkan oligofag pun harus dapat dipastikan bahwa inang alternatifnya bukan tanaman budidaya ekonomis. Idealnya adalah apabila ditemukan jenis agen monofag.
Harley & Forno (1992) mengemukakan suatu kriteria jenis tanaman yang harus diuji sebagai berikut:
1. Tumbuhan memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan gulma sasaran (misalnya varietas lain atau spesies lain dalam marga (genus) atau suku (famili) yang sama
2. Tumbuhan yang telah diketahui sebelumya sebagai salah satu inang alternatif
bagi agen yang bersangkutan
3. Tumbuhan yang merupakan inang jenis agen perusak yang memiliki
hubungan kekerabatan dekat dengan calon musuh alami
4. Tumbuhan yang hubungan kekerabatannya tidak jelas tetapi memiliki sifat
biokemis atau morfologi yang sama atau sangat mirip dengan gulma sasaran
5. Beberapa jenis tanaman budidaya/ekonomis yang umum tumbuh di
lingkungan gulma sasaran
Uji Kesukaan Terhadap Inang dengan Pilihan
Uji kesukaan suatu agen calon pengendali gulma dilakukan untuk
mengetahui selain gulma yang menjadi target apakah di antara jenis tumbuhan
yang diuji ada yang menunjukkan indikasi sebagai inang alternatif.
Uji kesukaan dilakukan dengan menyediakan beberapa jenis tumbuhan uji
(kurang lebih lima jenis) dimana gulma target adalah salah satu di antaranya.
Setiap jenis tumbuhan uji ditanam dalam pot terpisah dan diletakkan secara acak
dan diulang. Selanjutnya agen calon pengendali yang sedang dikaji dalam bentuk
larva atau nimfa dilepaskan ke dalam sangkar dalam jangka waktu tertentu. Setiap
hari dilakukan pengamatan terhadap adanya kegiatan agen misalnya makan
(menimbukan gejala kerusakan), meletakkan telur, sembunyi, mencari-cari jalan
untuk meninggalkan sangkar dan lain sebagainya.
Pengujian ini dikatakan berhasil jika agen melakukan kegiatan pada salah
satu tumbuhan uji terutama pada gulma sasaran. Apabila agen melakukan kegiatan
pada jenis tumbuhan lain, maka tumbuhan tersebut perlu diuji lebih lanjut.
Uji Kesukaan Inang Tanpa Pilihan
Uji inang tanpa pilihan diselenggarakan di dalam sangkar di mana satu jenis
tumbuhan uji ditanam dalam pot. Pengujian dilakukan dengan ulangan dan
dengan pembanding. Stadium kehidupan agen yang diuji dapat berupa serangga
dewasa, telur yang hampir menetas. Jumlah individunya cukup beberapa ekor
larva/serangga dewasa atau beberapa butir telur untuk setiap unit pengamatan.
Penyelenggaraan uji ini dikatakan benar apabila unit pengamatan pembanding
menunjukkan kehidupan agen yang dikaji hidup normal. Jangka waktu
penyelenggaraan pengujian ini bisa sangat bervariasi tergantung dari respon dari
agen yang diuji. Apabila telur menetas dan semua larva atau semua serangga
dewasa mati tanpa meninggalkan bekas kegiatan makan yang berarti maka
pengujian dapat dihentikan. Apabila dalam jangka waktu dua minggu larva/yang
dewasa masih hidup dan menunjukkan aktivitas makan maka besarnya kerusakan
dibandingkan dengan unit pembanding. Pengujian diteruskan untuk mengetahui
apakah mampu menyelesaikan siklus hidupnya. Telur yang berhasil diletakkan
oleh induk selama pengujian juga diuji apakah mampu menyelesaikan siklus
Pengendalian Gulma 73
hidupnya dan bahkan diteruskan sampai beberapa generasi untuk mengetahui
apakah mampu meneruskan perkembangan generasinya.
Dengan dua tahap pengujian kekhususan inang ini dapat dihasilkan suatu
kesimpulan apakah suatu agen dapat direkomendasikan atau ditolak sebagai calon
pengendali suatu jenis gulma sasaran. Apabila dengan pengujian-pengujian
kekhususan inang menunjukkan kekhasannya pada gulma sasaran dan tidak
menunjukkan adanya indikasi ancaman terhadap tanaman budidaya/ekonomis
maka ijin pelepasan (penggunaannya sebagai pengendalian gulma) dapat
direkomendasikan.
Setelah suatu agen calon pengendali dapat dilepas di alam terbuka tidak
berarti kegiatan penelitian telah selesai, tetapi masih harus diikuti dengan kegiatan
pemantauan dan evaluasi.
Pemantauan Pascapelepasan
Setelah pelepasan musuh alami sangat perlu adanya kegiatan pemantauan
dan evaluasi dengan tujuan mengetahui kendala adaptasi dan pemantapan populasi
agen pengendali. Dengan mengetahui kendala yang ditemukan di lapangan maka
upaya rekayasa perlu dilakukan untuk membantu pekembangan agen pengendali
gulma sasaran.
Evaluasi
Keberhasilan suatu upaya pengendalian gulma adalah sesuatu yang
subyektif-anthroposentris dan relatif. Tingkat keberhasilan upaya pengendalian
gulma biasanya diukur dengan penurunan populasi sampai pada tingkat yang
secara ekonomis kurang/tidak merugikan pada kepentingan manusia pada
umumnya atau secara khusus kepentingan pengelola suatu lahan bergulma yang
sedang dikelola untuk kegiatan ekonomi.
Pada dasarnya pengendalian biologis gulma bukan suatu upaya untuk
pemusnahan (eradikasi) tetapi untuk mencapai suatu keseimbangan biotik antara
agen-agen pengendali dan gulma sasaran. Tingkat keseimbangan dimana populasi
gulma secara ekonomis kurang merugikan adalah yang diharapkan. Dilihat dari
sisi ekonomis, dibanding dengan cara pengendalian lain, tidak dapat dipastikan
bahwa cara pengendalian biologis lebih murah.
Keberhasilan Pengendalian Biologi
Chromolaena odorata (L.) R.M. King and H. Robinson (Asteraceae)
Chromolaena merupakan tanaman neotropis yang menjadi gulma invasive
di Afrika tropis, Asia, Mikronesia, Papua Nugini, dan Timor Timur. Tumbuhan
ini juga telah ditemukan Queensland, Australia. Gulma ini merupakan masalah
utama di tanaman perkebunan, hutan tanaman, padang rumput, dan sepanjang kiri
kanan jalan.
Pengendalian Gulma 74
Pengendalian biologi Chromolaena pertama kali dimulai pada tahun 1970
ketika Pareuchaetes pseudoinsulata (Lepidoptera : Arctiidae) dan Apion
brunneonigrum (Coleoptera : Brenthidae) diimpor ke Malaysia. Hasil
menunjukkan bahwa P. pseudoinsulata dan Cecidochares connexa (Diptera :
Tephritidae) merupakan paling efektif.
Eichornia crassipes (Martius) Solms-Laubach (Pontederiaceae)
Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan gulma air di banyak negara
yang menghambat aliran air, mencegah akses sampai kedalaman air. Sukses
pengendalian biologi eceng gondok telah dicapai di beberapa negara sejak
pertengahan tahun 1970an dengan agen Neochetina eichorniae (Curculionidae)
telah diintroduksi ke Papua Nuigini pada tahun 1986 dan bersama N. bruchi telah
mengendalikan eceng gondok di beberapa negara.
Lantana camara L. (Verbenaceae)
Lantana camara merupakan gulma pertanian maupun ekosistem alami.
Calycomyza lantanae telah diintroduksi ke Guam tahun 1992 dan Fiji tahun 1996
dari Australia dan ke Pohnepei dari Guam tahun 1996. C. lantanae dan
Ophiomyia lantanae telah
Mikania micrantha Kunth (Asteraceae)
Agen Liothrips mikaniae telah (Phlaeothripidae) sudah dilepas di Solomons
tahun 1988 namun gagal berkembang. Beberapa agen yang saat ini menjadi
perhatian menunjukkan adanya harapan, yaitu ngengat Actinote anteas dan A.
thyla pyryha (Nymphalidae) saat ini sedang dicoba di Indonesia, Puccinia
spegazzinii (Uridenalis) sedang dicoba di India dan China.
Mimosa diplotricha (=invisa) C. Wright ex Suavalle (Fabaceae)
Heteropsylla spinulosa yang telah diintroduksi ke Australia pada tahun 1988
dapat mengendalikan M. diplotricha di Queensland utara. Dua agen hayati
lainnya Psigida walkeri yang diintroduksi ke Cook Island tahun 1994 dan
Scamurius sp. yang diintroduksi ke Samoa tahun 1988 gagal berkembang.
Pistia stratiotes L. (Asteraceae)
Pengendalian secara biologi telah sukses pada selada air di beberapa negara
terutama di Afrika dengan introduksi Neohydronomus affinis (Curculionidae) dari
Australia. N. affinis juga telah diintroduksi ke PNG pada tahun 1985 dan dapat
mengendalikan selada air dengan baik.
Salvinia molesta D.S. Mitchell (Salviniaceae)
Salvinia molesta Mitchell merupakan gulma air yang memiliki karakteristik
laju berkembang biaknya sangat cepat dengan sifat adaptasi yang tinggi di
Pengendalian Gulma 75
berbagai kondisi lingkungan, terutama pada air buangan aktivitas industri, limbah
domestik, limbah pertanian dan kehutanan.
Gulma air ini berkembang biak dengan rimpang dan potongan tanaman,
dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Populasi akan menjadi dua kali lipat
dalam 2.5 hari (Room et.al., 1984) yang akan membentuk lapisan tebal menutupi
permukaan air dan dapat mencapai ketebalan 3 kaki (Anonim, 2004).
Keberadaannya pada permukaan perairan dapat mengakibatkan penurunan
kualitas air, pendangkalan sungai, waduk, situ dan perairan lainnya, penyumbatan
aliran air, penurunan debit air sungai yang berakibat menurunkan produksi
budidaya ikan tawar di tambak-tambak, produksi pertanian, maupun pengurangan
air baku untuk industri dan keperluan rumah tangga, serta penyebab polusi
lingkungan dan sebagai sumber penyakit pada manusia (Hadi, 1992; Mitchell,
1980).
Agens yang digunakan untuk mengendalikan gulma air ini adalah
Cyrtobagus salviniae (Curculionidae). Dalam lingkungan hidupnya pada tanaman
inang, penampakannya sering sulit dibedakan dengan jenis spesies lain seperti
Cyrtobagus singularis. Larva kumbang Cyrtobagus salviniae memakan batang
dan rimpang gulma air dengan cara membuat liang gerek pada tanaman inang
sehingga ruas-ruas tanaman termasuk batang, rimpang dan daun-daunnya menjadi
terpisah-pisah. Gejala serangan terlihat pada ruas-ruas tanaman inang berubah
menjadi berwarna coklat, terpisah-pisah dan berkerut. Musuh alami ini berperan
menghambat pengembangan tunas-tunas gulma dan memakannya (Forno dan
Bourne, 1985). Kumbang Cyrtobagus salviniae lebih suka membuat liang gerek
pada titik tumbuh yang merupakan bagian tanaman yang memiliki kandungan
nitrogen yang tinggi (Sand et.al., 1983).
Sida acuta Burman f and S. rhombifolia L. (Malvaceae)
Kumbang pemakan daun Calligrapha pantherina (Chrysomelidae) telah
diintroduksi ke Australia untuk mengendalikan S. acuta dan S. rhombifolia di
Northern Territory. Selanjutnya, kumbang tersebut diintroduksi ke PNG, Fiji, dan
Samoa sebelum tahun 1998 dan Vanuatu tahun 2004. Pengendalian diperoleh di
beberapa area di PNG dan Fiji.
Xanthium strumarium L (Asteraceae)
Gulma X. Strumarium merupakan gulma penting di padang rumput
penggembalaan yang dapat berpengaruh terhadap produksi dan menyebabkan
kematian ternak. Ngengat penggerek batang Epiblema strenuana (Tortricidae)
telah diintroduksi dan berkembang di X. strumarium di Australia dan dapat
mengendalikan X. strumarium. Di PNG ngengat tersebut telah diintroduksi dua
kali yaitu tahun 2002 dan 2003, namun gagal mengendalikan X. strumarium.


Pengendalian Gulma Secara Kimiawi

A. Pengenalan Herbisida
Pada pengendalian gulma, mengendalikan gulma secara khemis merupakan
salah satu cara pengendalian disamping pengendalian secara manual/mekanis.
Dalam mengendalikan gulma secara khemis digunakan herbisida.
Herbisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mematikan atau
menghambat pertumbuhan gulma. Secara kasat mata tanaman dan gulma memiliki
morfologi yang hampir sama namun berbeda peran dalam pertanian. Penyemprot
harus memastikan bahwa herbisida yang diberikan terarah pada gulma dan
meniadakan persentuhan semprotan herbisida terhadap tanaman. Herbisida
merupakan bagian atau anggota dari pestisida. Selain herbisida, pestisida terdiri
atas insektisida, fungisida, bakterisida dan lain-lain.
Dalam pengendalian hama terpadu (PHT), herbisida digunakan sebagai
alternatif terakhir jika masih ada cara lain yang lebih efektif dan aman digunakan.
Pada tingkat tertentu herbisida merupakan senyawa beracun, sehingga pemakaian
herbisida haruslah secara arif bijaksana dan memerlukan pendidikan konsumen
dalam hal teknik aplikasi, pemakaian dan keselamatan.
Hebisida umumnya relatif kurang beracun dibandingkan dengan insektisida
dan fungisida. Herbisida juga tidak ampuh untuk segala jenis spesies gulma pada
setiap tingkatan umur gulma. Herbisida menjadi penting dipertimbangkan pada
saat efisiensi menjadi prioritas disaat modal menjadi terbatas atau pertanian
dilaksanakan dalam skala luas.
Pemakaian herbisida dalam jangka panjang perlu mempertimbangkan
kemungkinan resistensi gulma terhadap aplikasi herbisida. Gulma menjadi lebih
tahan terhadap penyemprotan herbisida karena dilakukan berulang-ulang dalam
jangka waktu lama dengan menggunakan suatu jenis herbisida yang sama.
Pada umumnya konsep herbisida memenuhi kriteria sedikit, selektif,
sistemik dan sekuriti (keamanan). Dalam jumlah sedikit herbisida harus efektif
menghambat atau mematikan gulma. Herbisida juga harus selektif mematikan
gulma dan tanaman terhindar dari efek merugikan. Herbisida juga dimungkinkan
untuk dapat masuk dalam sistem jaringan gulma dan mematikan gulma. Herbisida
juga harus aman terhadap pemakai atau penyemprot dan lingkungan.
Dalam sejarah perkembagan herbisida dapat dipilah antara Pra PD II dan
setelah PD II. Pada pra PD II herbisida herbisida an organik banyak digunakan.
Contohnya adalah garam, asam sulfat, bubur bordo, besi sulfat, tembaga nitrat,
arsenit dan lain-lain. Setelah PD II herbisida organik mendominasi penemuanpenemuan
herbisida berikutnya karena praktis, tidak voluminous dan efektif
digunakan. Penggunaan herbisida meningkat sejalan dengan kelangkaan tenaga
kerja pertanian setelah PD II dan perkembangan mekanisasi pertanian. Para petani
Pengendalian Gulma 76
di Amerika dan Eropa adalah pemakai-pemakai pertama herbisida pada lahan
pertanian.
Pada penggunaan herbisida terdapat keuntungan, namun demikian beberapa
hal juga perlu dipertimbangkan sebelum pemakaian. Keuntungan pemakaian
herbisida adalah : 1) pada umumnya ekonomis (tenaga kerja, waktu, modal) ; 2)
gulma yang peka tertekan ; 3) dapat mengggantikan sebagian pengolahan lahan ;
4) kerusakan akar lebih sedikit daripada cara mekanis ; 5) mengurangi erosi ; 6)
dapat mengendalikan gulma sejak awal (pra tumbuh) ; 7) dapat menghemat waktu
dan tenaga kerja ; 8) dapat menjangkau tempat-tempat yang tidak tercapai secara
manual/mekanis 9) saat pengendalian dapat disesuaikan dengan waktu yang
tersedia ; 10) areal pemakaian dapat diperluas ; 11) herbisida yang selektif dapat
mematikan gulma yang tumbuh dekat tanaman 12) dapat mengurangi gangguan
terhadap struktur tanaman ; 13) gulma yang mati dapat berfungsi sebagai mulsa
dan berperan sebagai sumber bahan organik.
Selain keuntungan-keuntungan yang didapatkan dalam pemakaian herbisida
perlu juga dipertimbangkan beberapa hal dalam pelaksanaannya dalam kerangka
pengelolaan sumberdaya lingkungan yang berwawasan dan pembangunan yang
berkelanjutan, diantaranya: 1) memerlukan kecakapan (pengenalan bahan,
penggunaan alat, perlengkapan pelindung, kalkulasi); 2) keamanan bagi
lingkungan ; 3) keselamatan pemakai ; 4) pendidikan konsumen. Oleh karena itu
penelitian dan uji coba penggunaan herbisida perlu dilakukan secara lebih berhatihati
dan selektif. Disamping itu ditinjau dari berbagai aspek yang menyangkut
penggunaan jenis, dosis, waktu, mutu dan keamanan terhadap petani serta
lingkungannya.
B. Pengelompokan Herbisida
Herbisida dapat digolongkan berdasarkan jenis gulma sasaran, cara kerja,
waktu aplikasi dan susunan kimianya. Penggolongan menurut jenis gulma
mengelompokkan herbisida atas herbisida untuk golongan gulma rumput
(grasses), herbisida untuk golongan gulma berdaun lebar, herbisida untuk gulma
golongan teki dan herbisida yang berspektrum luas (broad spectrum). Misalnya,
herbisida untuk gulma golongan rumput adalah propanil yang dipakai untuk
mengendalikan gulma Echinochloa crusgalli pada pertanaman padi sawah.
Herbisida untuk mengendalikan gulma golongan berdaun lebar adalah 2,4-D dan
herbisida untuk mengendalikan lebih dari satu jenis gulma adalah glifosat
(mengendalikan gulma golongan rumput dan berdaun lebar).
Penggolongan herbisida berdasarkan cara kerja antara lain dibedakan
menjadi herbisida kontak dan herbisida sistemik Herbisida kontak adalah
herbisida yang mematikan bagian gulma yang terkena butiran-butiran semprot
yang disemburkan, Herbisida kontak dikenal juga sebagai caustic herbicides,
karena adanya efek bakar yang terlihat, terutama pada konsentrasi tinggi pada
bagian yang berhijau daun. Herbisida kontak hanya mematikan bagian gulma
yang terkena larutan, jadi bagian gulma di bawah tanah seperti akar atau rimpang
tidak terpengaruhi dan pada waktunya dapat tumbuh kembali. Salah satu contoh
herbisida kontak yaitu paraquat, molekul herbisida ini menghasilkan radikal
hydrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh
Pengendalian Gulma 77
konfigurasi sel seperti umumnya pada herbisida kontak. Translokasi hampir tidak
ada. Efektif untuk mengendalikan gulma semusim (annual weed), dapat bersifat
selektif atau non selektif, dapat berspektrum sempit atau berspektrum luas. Gejala
kematian gulma yang ditimbulkan terlihat antara beberapa jam sampai satu
minggu setelah aplikasi.
Herbisida sistemik adalah herbisida yang ditranslokasikan dan berefek luas
pada seluruh sistem tumbuhan. Herbisida sistemik efektif untuk mengendalikan
gulma tahunan (perennial weed) dan dapat bersifat selektif maupun non selektif,
dapat berspektrum pengendalian luas maupun sempit. Gejala kematian gulma
terlihat pada 2 – 4 minggu setelah aplikasi. Contoh herbisida sistemik adalah 2,4-
D, dalapon dan glifosat.
Penggolongan herbisida berdasarkan waktu aplikasi yaitu :
a. herbisida pra tanam (pre planting), digunakan sebelum tanaman pokok
ditanam atau benih disebar/ditebar, misalnya triazin pada jagung
b. herbisida pra tumbuh (pre emergence herbicides), digunakan setelah
tanaman pokoknya tumbuh, misalnya nitralin pada timun; herbisida
diberikan pada permukaan tanah untuk mencapai akar atau biji gulma.
c. herbisida pasca tumbuh (post emergence herbicides), digunakan
sesudah gulma dan tanaman pokoknya tumbuh, misalnya propanil pada
padi, glifosat atau dalapon pada tanaman karet ; herbisida disemprotkan
pada daun gulma dan mematikannya.
Penggolongan berdasarkan bahan kimia. Secara kimiawi herbisida dapat
dipisahkan menjadi organik dan anorganik. Berdasarkan bahan kimia, herbisida
organik dikelompokkan dan pada setiap kelompok terdapat turunan-turunannya.
Kelompok utama herbisida tersebut adalah : alifatik, amida, arsen, asam benzoat,
bipiridilium, dinitroanilin, nitril, fenol, karbamat, fenoksi, tio karbamat, triazin,
triazole, ure, dan kelompok herbisida lain. Setiap kelompok menunjukkan model
kerja (mode of action) tersendiri. Kelompok utama herbisida dan turunannya dapat
dilihat pada Tabel 7.1. Pada formulasi bahan dagang tertulis nama bahan dagang
dan bahan aktifnya. Bahan aktif adalah turunan atau anggota dari kelompok utama
herbisida.
Pengendalian Gulma 78
Tabel 7.1. Pengelompokkan Herbisida Berdasarkan Bahan Kimia
Kelompok Herbisida Beberapa Anggota Kelompok
Alifatik TCA, Dalapon
Amida Alachlor, Propanil
Arsen MSMA, MAMA, DSMA
Asam benzoate Dicamba, Chloramben
Bipiridilium Diquat, Paraquat
Dinitroanilin Nitralin, Trifluralin
Nitril Dichlorbenil, Ioxynil, Bromoxynil
Fenol Dinoseb, Dinosam, PCP, DMPA
Karbamat Chlorpropham, Propham, Phenmedipam
Fenoksi 2,4-D, 2,4,5-T, 2,4-DB, MCPA, Sesone
Tio karbamat EPTC, CDEC, Butylate
Triazin Ametrin, Atrazin, Bladex, Simazine
Triazole Amitrole, Amitrole-T
Urea Linuron, Diuron, Monuron, Chlorbromuron
Herbisida lain Picloram, Glifosat, Sulfosat
Formulasi herbisida merupakan bentuk berbisida yang siap digunakan untuk
pengendalian gulma yang tersusun atas bahan aktif, bahan pembawa dan
ajuvan/surfaktan. Formulasi herbisida dapat berbentuk cair dan bentuk padat.
Bentuk cair adalah larutan, emulsi dan suspensi. Bentuk cair misalnya formulasi
AS (aquaeous solution), WSC (water soluble concentrate), EC (emulsifiable
concentrate), FW (flowable). Bentuk padat berupa butiran dan tepung. Bentuk
butiran misalnya formulasi G (granule). Bentuk tepung misalnya formulasi SP
(soluble powder) dan WP (wettable powder).
Ajuvan atau Surfaktan (surfactant = surface active agent) berperan dan
digunakan untuk menghubungkan permukaan dua fase (interfase) dengan tujuan
untuk meningkatkan keefektifan herbisida. Ajuvan terdiri atas sarana emulsida
(emulsifying agent) menghubungkan interfase cair – cair. Sarana pembasah
(wetting agent) menghubungkan interfase cair – padat. Sarana pembusa (foaming
agent) menghubungkan interfase cair – gas.
C. Pencampuran Herbisida
Pemakaian herbisida selain digunakan secara tunggal dapat juga
dicampurkan dengan herbisida lain yang disebut herbisida campuran atau
herbisida majemuk. Pencampuran herbisida untuk mengendalikan gulma dapat
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mematikan atau menghambat
pertumbuhan gulma oleh herbisida. Pencampuran dapat dilakukan di lapangan
Pengendalian Gulma 76
sebelum penyemprotan dilakukan (tank mix). Selain itu formulator (pembuat)
herbisida juga telah mengemas atau memformulasikan herbisida dengan lebih dari
satu bahan aktif dalam suatu bahan jadi formulasi bahan dagang (formulated
mix/built in). Paracol adalah salah satu contoh merk dagang herbisida yang bahan
aktifnya pencampuran antara paraquat dan diuron.
Pemakaian herbisida campuran bertujuan untuk mengurangi efek racun
merugikan pada tanaman dan tanah, karena pemakaian herbisida yang terus
menerus, untuk mendapatkan kombinasi campuran herbisida yang murah, untuk
mendapatkan kefektifan herbisida baik pada pemakaian dosis rendah dan untuk
memperluas kemampuan pengendalian jenis gulma (broad spectrum).
Sifat herbisida campuran yang diharapkan adalah sinergis, yaitu efek
penyemprotan herbisida campuran lebih baik daripada penyemprotan secara
tunggal. Efek pengendalian herbisida campuran yang antagonis dan atau aditif
tidak menunjukkan hasil yang lebih baik daripada penyemprotan secara tunggal
dengan satu jenis herbisida.
D. Model Kerja Herbisida
Model kerja herbisida pada tumbuhan yang ditunjukkan dengan kematian
atau penghambatan dalam pertumbuhan gulma terjadi melalui beberapa cara,
yaitu: 1) menghambat fotosintesis ; 2) menghambat respirasi ; 3) menghambat
perkecambahan ; 4) menghambat pertumbuhan dan 5) menghambat sintesis
protein.
Herbisida yang menghambat fotosintesis mengganggu fase reaksi cahaya.
Hal ini terutama terjadi pada herbisida yang dipakai melalui akar, misalnya
herbisida triazin, urasil, amida dan turunan urea. Herbisida yang menghambat
respirasi mencegah pembentukan ATP dalam proses respirasi, misalnya herbisida
dinitrofenol dan turunan arsen. Herbisida yang menghambat perkecambahan akan
menghambat perkembangan titik tumbuh kecambah (koleoptil), misalnya
herbisida karbamat dan tiokarbamat. Herbisida yang menghambat pertumbuhan
menyebabkan pembesaran yang tidak teratur atau penyumbatan pada seluruh
saluran pembuluh gulma, misalnya herbisida picloram dan dicamba. Herbisida
yang menghambat sintesis protein menyebabkan denaturasi dan pengendapan
protein, misalnya herbisida dalapon dan TCA.
Pada penggunaan herbisida di pertanaman, aspek selektivitas penting
diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam penyemprotan. Perlu diperhatikan
bahwa dalam penyemprotan yang akan dimatikan atau dihambat pertumbuhannya
adalah gulma yang memiliki bentuk wujud atau morfologi dan fisiologi yang
sama dengan tanaman. Selektivitas menunjukkan keamanan herbisida bagi
tanaman dan keefektifan herbisida terhadap golongan gulma tertentu atau spesies
tertentu. Selektivitas merupakan interaksi antara tumbuhan dengan herbisida yang
mencakup aspek morfologi, absorbsi, translokasi, biokimia dan teknik.
Perbedaan struktur morfologi tumbuhan dapat menyebabkan perbedaan
respon terhadap herbisida, misalnya tumbuhan dikotil lebih peka terhadap
herbisida kontak dibandingkan tumbuhan monokotil yang titik tumbuhnya lebih di
dalam batang. Tanaman berumur tahunan lebih tahan terhadap herbisida karena
Pengendalian Gulma 77
kulit batang yang telah menebal dibandingkan tanaman semusim yang lebih lunak.
Faktor absorbsi membedakan tumbuhan yang berdaya absorbsi cepat, lambat atau
tidak mengabsobsi. Absorbsi berlangsung melalui akar, batang dan daun.
Herbisida dikatakan efektif jika mampu menembus lapisan kutikula dan
epidermis.
Translokasi merupakan faktor penting untuk gulma dengan propagul dalam
tanah (rhizome, umbi). Jika herbisida dapat ditranslokasikan maka penyemprotan
di atas tajuk dapat mematikan gulma sampai bagian jaringan yang berada di dalam
tanah. Translokasi berlangsung melalui phloem (simplas), xylem (apoplas) dan
ruang antar sel. Faktor biokimia dalam pengertian selektivitas adalah kesanggupan
tumbuhan tertentu untuk mengubah zat toksik menjadi tidak toksik dan sebaliknya
dengan bantuan katalisis (enzim) atau tidak. Faktor teknik merupakan upayaupaya
praktis untuk meningkatkan selektivitas herbisida.
Gambar 7.1 Gerakan Translaminar dan Sistemik
E. Teknik Aplikasi Herbisida
Beberapa cara aplikasi penyemprotan herbisida antara lain adalah teknik
over head, over all, spot spraying dan wiping. Penyemprotan secara over head
adalah penyebaran butiran semprot (droplet) secara merata pada permukaan tajuk
gulma, misalnya pada penyemprotan berdasarkan waktu pra tanam dan pasca
pasca tumbuh dengan menggunakan alat semprot punggung (knapsack sprayer).
Penyemprotan secara over all adalah adalah penyebaran butiran semprot
secara merata pada permukaan tanah, misalnya penyemprotan berdasarkan waktu
pra tumbuh dengan menggunakan alat semprot punggung (knapsack sprayer).
Penyemprotan secara spot spraying adalah penyebaran butiran semprot pada areal
tertentu. Tindakan ini biasa dilakukan sebagai tindakan penyemprotan koreksi
Pengendalian Gulma 78
atau penyemprotan aplikasi ulang (re-aplikasi) yang dilakukan secara over head
atau wiping.
Pengusapan (wiping) adalah penyebaran butiran semprot dengan cara
mengusapkan herbisida pada bagian tajuk gulma mulai dari pangkal gulma
diusapkan sampai bagian ujung gulma. Pengusapan juga dapat dilakukan sebagai
tindakan koreksi penyemprotan dan biasa dilaksanakan terhadap gulma alangalang
dan gulma berdaun lebar.
Alat penyebaran atau alat penyemprotan herbisida adalah alat semprot di
punggung (knapsack sprayer), CDA (controlled droplet aplicator), mistblower,
pengusap, sprayer dengan traktor, power sprayer. Penyemprotan dapat dilakukan
pada tekanan tertentu yang dapat diukur.dan dipertahankan stabil. Berhubungan
dengan pemakaian alat semprot adalah butiran semprot yang dihasilkan (droplet).
Pada aplikator CDA ukuran ideal dan seragam, 250 mikron. Pada knapsack
sprayer ukuran 400-600 mikron. Jumlah dan ukuran butiran semprot harus cukup
membasahi tajuk tapi tidak sampai menetes. Ukuran butiran semprot kurang baik
jika berukuran besar dan menyatu. Butiran semprot yang baik adalah berukuran
ideal, seragam dan cukup banyak.
Pengendalian Gulma 79
Gambar 7.2 Penyebaran Droplet
F. Kalkulasi dan Kalibrasi
Kalkulasi herbisida adalah penghitungan kebutuhan bahan herbisida dan
bahan pelarut untuk mendapatkan hasil pengendalian yang sebaik-baiknya. Dalam
menghitung kebutuhan herbisida perlu dipahami pengertian bahan aktif dalam
herbisida. Bahan aktif dinyatakan dalam kebutuhan per luasan hektar (per ha).
Bahan pelarut yang umum digunakan sebelum aplikasi penyemprotan adalah air.
Kebutuhan air sebagai pelarut dalam luasan satu hektar disebut volume semprot
dan dinyatakan dalam satuan liter per ha (l/ha). Volume semprot adalah juga
jumlah larutan herbisida yang diperlukan untuk suatu luasan penyemprotan.
Bahan aktif dinyatakan dalam satuan persentase (%), dalam bentuk
persentase berat/berat, yaitu % (w/w) ; persentase volume/volume, yaitu % (v/v)
; persentase berat/volume, yaitu % (w/v). Contoh bahan aktif dalam % (w/w) :
formulasi WP, G (g/kg). Contoh bahan aktif dalam % (v/v) : formulasi EC (ml/l).
Contoh bahan aktif dalam % (w/v) : formulasi AS (g/l).
Volume semprot yang digunakan dipengaruhi faktor kerapatan gulma, tipe
alat semprot, tipe nozel, kecepatan jalan, tekanan semprot, jenis herbisida (kontak
/ sistemik; pre/post). Volume semprot yang digunakan tergantung alat yang
digunakan dan terdiri atas : volume tinggi 400 – 700 l/ha, volume rendah 100 –
200 l/ha dan volume sangat rendah 20 – 30 l/ha. Volume semprot ditetapkan
dengan kalibrasi (peneraan).
Pemahaman dosis dan konsentrasi juga penting diperhatikan dan dibedakan.
Dosis adalah jumlah atau banyaknya bahan dalam atau untuk suatu luasan tertentu
atau individu (tanaman/pohon). Contoh : dosis herbisida Round up 2-4 l/ha, dosis
glifosat 960 g.b.a/ha. Konsentrasi adalah banyaknya atau kandungan suatu bahan
tertentu dalam bahan lain. Konsentrasi dalam bahan dagang adalah kandungan
Pengendalian Gulma 80
bahan aktif dalam bahan dagang. atau formulasi dengan pelarut organik. Contoh :
480 g/l glifosat pada Round up dalam kemasan. Konsentrasi dalam larutan
herbisida siap pakai adalah kandungan bahan dagang dalam larutan herbisida
dengan pelarut air. Contoh : 20 ml/l Round up, yang diartikan 20 ml Round up per
liter air sebagai pelarut dalam alat semprot. Contoh satuan dosis adalah l/ha atau
kg/ha. Contoh satuan konsentrasi adalah ml/l, cc/l, %, ppm.
Pekerjaan yang berhubungan dengan kalkulasi herbisida adalah kegiatan
kalibrasi. Kalibrasi adalah peneraan alat dan operator penyemprotan untuk
mencapai ketelitian sebesar-besarnya dalam aplikasi herbisida. Dengan tindakan
kalibrasi dapat ditetapkan volume semprot dan kecepatan jalan operator
penyemprotan. Dalam kalibrasi juga diperiksa kesiapan alat dan operator serta
perbandingan alat yang digunakan terhadap keadaan baku standar.





Pengelolaan Gulma Terpadu

A. Konsep Pengendalian Gulma Terpadu
Perhatian terhadap pengelolaan jasad pengganggu tanaman (gulma, penyakit, serangga dan binatang lainnya) secara terpadu telah berlangsung cukup lama. Pada tahun-tahun terakhir ini masalah pengelolaan tersebut telah mendapat perhatian yang besar khususnya di Negara yang telah maju. Sebenarnya pengendalian terpadu di Indonesia telah dilakukan kira-kira 30 tahun yang lalu, yakni pengendalian hama Artona pada kelapa, yang dilakukan berdasarkan pengendalian hama dengan predator atau parasitnya serta pengembangan dan penyebaran musuh-musuh hama (pemberantasan secara biologis). Jika dijumpai adanya ketidakseimbangan antara jumlah hama dan parasitnya, maka barulah dilakukan penyemprotan dengan serbuk akar tuba yang menandung bahan aktif rotenon (pemberantasan secara kimiawi).
Contoh lain ialah penutupan tanah dengan Leguminosa yang menjalar di perkebunan karet dan kelapa sawit. Sewaktu membangun penutup tanah, penyiangan gulma dilakukan dengan cangkul (pemberantasan secara mekanis). Setelah itu tertutuplah tanah dengan kacang-kacangan yang dengan sendirinya akan dapat mengendalikan gulma (secara hayati dengan naungan). Namun masih ada gulma yang dapat tumbuh yang kemudian harus diberantas secara kimiawi.
Ironinya dewasa ini banyak orang membicarakan istilah integrasi yang seolah-olah merupakan suatu hal yang belum dikenal. Sayang bahwa cara itu telahlama ditinggalkan, karena perhatian kita lebih menjurus ke arah pemakaian jenisjenis pestisida baru yang dianggap modern dan sempurna tanpa mempertimbangkan berbagai perubahan pada lingkungan yang dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan alami. Hal tersebut telah disadari, maka khususnya pada bidang hama sedang dikembangkan serta diteliti cara-cara
yang lebih memadai dan yang dapat menghindari pencemaran alam oleh pestisida.
Apakah sebenarnya pengendalian gulma terpadu itu? Dalam tulisan ini diuraikan berbagai pandangan sehubungan dengan pengendalian gulma.

B. Arti Pendekatan Pengendalian Gulma Terpadu
Arti integritas ialah memadukan atau menggabungkan beberapa bagian yang terpisah menjadi satu bagian yang utuh. Pengelolaan gulma terpadu mengandung arti pengelolaan gulma yang efektif, ramah lingkungan, berwawasan lingkungan dan mampu menurunkan populasi gulma dibawah ambang batas ekomomi. Dalam usaha pendekatan pengendalian gulma terpadu yang perlu diperhatikan adalah tahap-tahap : (a) perpaduan semua faktor yang penting sehingga dapat dilakukan pencirian (identifikasi) masalah gulma yang dihadapi itu secara tepat dan
menyeluruh; (b) pemilihan cara pengendalian yang tepat; (c) pengawasan pelaksanaan dan pemilihan bahan dan peralatan yang juga harus tepat; dan (d) pengelolaan gulma dalam jangka panjang yang memerlukan berbagai cara  pengendalian yang dapat memberikan hasil yang lebih baik sehingga secara ekonomi maupun ekologi dapat lebih dipertanggungjawabkan. Pemaduan caracara pengendalian hanya dapat dilaksanakan apabila ternyata benar-benar lebih baik dan menguntungkan daripada suatu cara tunggal, karena bukanlah tidak mungkin bahwa satu cara saja sudah cukup baik untuk dilaksanakan serta resiko yang dihadapi adalah yang paling kecil.
Strategi yang efektif dari pengelolaan gulma terpadu harus merupakan bagian integral dari sistem produksi itu sendiri, baik pertanian/perkebunan, peternakan maupun hutan produksi. Untuk dapat memahami keadaan yang kompleks ini diperlukan pendekatan secara sistem.
Komponen dasar untuk mempelajari manajemen penggendalian gulma antara lain ialah :
1. Moniroring rutin terhadap infestasi gulma dan didalamnya mendeteksi gulma yang resisten terhadap herbisida diarea yang telah diberikan perlakuan herbisida.
2. Biologi dan ekologi dari spesies gulma dominan.
3. Identifikasi periode kritis dari kompetisi dan dari periode penyebaran biji gulma.
4. Teknik pengendalian yang efektif, layak secara ekonomi, dan metode pengendalian yang ramah lingkungan.
Pengetahuan mengenai periode kritis pada kompetisi gulma akan membantu untuk mengetahui kapan pelaksanaan pengendalian untuk meminimalkan kehilangan hasil dari banyak jenis tanaman (Zimdall, 2004).
Penetapan masalah sedapatnya diketahui pencirian secara taksonomi pencacahan (inventarisasi), serta sifat dan besarnya kerugian yang ditimbulkan.Cara pengendalian yang dipilih harus didasarkan atas pertimbangan ekologi, seperti timbulnya pencemaran apabila digunakan bahan-bahan pestisida secara tidak tepat dan pertimbangan ekonomi yang dapat dipertanggungjawabkan. Caracara pengendalian itusedapat mungkin ditujukan kepada penguasaan lingkungan sehingga populasi gulma dapat ditekan serendah-rendahnya. Setelah cara pengendalian yang paling tepat itu ditentukan untuk dilaksanakan, sangat penting untuk kemudian menetapkan suatu cara penilaian (evaluasi) yang baik guna menentukan pengaruh pengendalian terhadap lingkungan dan terhadap pertumbuhan tanaman pangan dan produksinya. Sedangkan pengelolaan gulma jangka panjang harus didasarkan atas penilaian terhadap cara pengendalian yang dijalankan, serta adanya kemungkinan bahwa dari hasil pencirian masalah dapat secara langsung dilakukan perencanaan pengelolaan jangka panjang; misalnya pada areal tanaman yang baru dibuka dari hutan.
Pengelolaan tersebut dapat juga dicapai dengan cara pencegahan atau preventif, dengan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh ekologi maupun ekonomi dari cara-cara pengelolaan. Dalam hal seperti itu umpan balik (feed back) cara pengendalian sudah dapat disederhanakan dengan mengubah cara. Sedangkan cara pengendalian secara langsung (mekanis atau kimiawi) dapat dianggap sebagai cara kuratif. Oleh karena itu pengelolaan gulma harus dilandasi oleh penelitian dasar yang direncanakan dengan baik. Disamping semua itu peranan pendidikan juga sangat penting sebagai pelengkap guna meningkatkan kemampuan petugas dalam menghadapi masalah gulma. Sistem pengelolaan gulma secara terpadu mempunyai tujuan yang menekankan kepada pendekatan agro-ekosistem guna pengelolaan dan pengendalian gulma serta jasad pengganggu lainnya pada tingkatan yang masih dapat diterima yang dapat mencegah terjadinya kerusakan ekonomi, baik pada masa sekarang maupun yang akan datang. Pendekatan sistem pengendalian gulma terpadu mencakup beberapa hal sebagai berikut :
1. Penggunaan jenis-jenis tanaman budidaya yang tahan terhadap segala jenis
pengganggu dan yang sudah beradaptasi secara sempurna sehingga tahan akan
pengaruh kompetisi gulma; pemakaian dosis pupuk yang tepat sehingga
memberikan kemampuan bagi tanaman budidaya untuk berkompetisi dengan
waktu pemupukan yang tepat guna pertumbuhan yang cepat bagi tanaman
budidaya, tetapi menghambat pertumbuhan gulma. Termasuk di dalam sistem
ini adalah pembuatan tempat-tempat pembibitan yang bersih gulma,
penanaman yang optimum per hektar termasuk juga jarak tanam dan larikan,
serta penggunaan tanaman budidaya yang cepat membentuk tajuk daun dan
luas sehingga dapat menutup kemungkinan tumbuhnya gulma.
2. Pelaksanaan cara-cara pengairan yang teratur dan terkendali, pengolahan tanah
yang baik, rotasi tanaman dan diversifikasi, kebersihan tanah-tanah yang
diolah, cara-cara pemanenan yang tidak menimbulkan tersebarnya biji-biji
gulma, serta penggunaan agen-agen hayati dan herbisida yang efektif.
Pada prinsipnya prinsip ini merupakan keterpaduan antara cara-cara
pengelolaan gulma yang tepat dan penggunaan jenis-jenis tanaman budidaya yang
cocok yang tergantung satu sama lain serta mudah dilaksanakan di dalam sistem
produksi bahan pangan baik nabati maupun hewani yang juga akan mempunyai
manfaat yang besar bagi para penghasilnya. Sistem ini juga merupakan bagian
yang penting dari program pendidikan dan latihan.
C. Kemajuan Teknologi di dalam Sistem Pengelolaan Gulma Terpadu
Kemajuan-kemajuan teknologi di dalam pengendalian gulma dan kerugiankerugian
yang ditimbulkannya harus dievaluasi sebagai bagian dari teknologi
pengelolaan produksi dan proteksi tanaman. Termasuk di dalamnya adalah
dihasilkannya jenis-jenis tanaman budidaya yang secara genetis lebih baik,
perbaikan-perbaikan di dalam cara-cara pengelolaan, kebutuhan nutrisi bagi
tanaman/hewan, alat-alat pertanian, dan cara – cara pengairan, dan pengendalian
jasad-jasad pengganggu secara efisien. Cara-cara produksi dan proteksi pertanian
ini telah terpadu sedemikian rupa di dalam lingkungan pertanian yang berproduksi
tinggi tanpa menurunkan kualitas lingkungan.
Lebih dari 90% teknologi pengendalian gulma saat ini di Amerika Serikat
telah dikembangkan sejak tahun 1940 dan sebagian besar di tahun 1960. cara-cara
pengendalian kultur teknis, ekologis dan hayati terhadap gulma pada saat ini telah
digunakan di areal tanah pertanian seluas 149 juta hektar lebih per tahun.
Pengendalian Gulma 82
D. Keuntungan sistem Pengendalian Gulma Terpadu
Penggunaan teknologi sistem pengelolaan gulma terpadu telah meningkatkan
± 10% dari total peningkatan produksi pertanian di Amerika Serikat sejak tahun
1940. hal ini merupakan suatu keberhasilan yang nyata jika dibandingkan dengan
biaya yang telah dikeluarkan guna mengembangkan teknologi ini. Sistem
pengelolaan gulma terpadu telah mengurangi secara nyata kebutuhan akan tenaga
kerja dan alat-alat di dalam produksi pertanian dan peternakan. Hasil panen dan
kualitas tanaman budidaya telah meningkat pesat. Penurunan hasil yang
disebabkan oleh adanya gulma telah menurun dari 20% ke 10%. Pengendalian
kimiawi terhadap jenis-jenis gulma yang menghasilkan serbuk sari yang dapat
menimbulkan penyakit alergi pada manusia telah menurunkan jumlah pasiennya.
Dalam kurun waktu 30 tahun, produksi gandum, beras, dan kentang di Amerika
Serikat meningkat dua kali dan pada jagung tiga kali. Penerapan sistem
pengelolaan gulma terpadu juga telah menurnkan kebutuhan tenaga kerja di sektor
ini sebesar 30-50%. Di Jepang produksi beras meningkat dua kali pada kurun
waktu 10 tahun (antara tahun 1951 dan 1961), dan kebutuhan akan tenaga kerja
menurun sebesar 42%.
Penerapan sistem pengendalian gulma terpadu juga secara efektif telah
memperbaiki bermacam-macam cara pengendalian jasad pengganggu lainnya,
seperti hama, penyakit, parasit dan lain-lain.
F. Keuntungan Sistem Pengendalian Gulma Terpadu di dalam Agroekosistem
Strategi kita dewasa ini adalah lebih mendalami masalah yang dapat
menimbulkan teknologi-teknologi yang tepat guna dalam pengelolaan lingkungan
pertanian, khususnya pengendalian gulma, secara lebih efektif. Kita menyadari
bahwa gulma mudah sekali tersebar dan tumbuh di daerah-daerah pertanian atau
tersebar meluas di suatu negara dan bahwasanya tanaman budidaya akan bersaing
dengan gulma-gulma ini. Di masa-masa mendatang kita harus memberikan
perhatian terhadap masalah-masalah pengendalian gulma di dalam suatu agroekosistem
secara keseluruhan dan tidak lagi membatasi praktek-praktek
pengendalian gulma hanya pada satu jenis tanaman budidaya dalam semusim.
Penerapan sistem pengendalian gulma terpadu dalam pendekatan agro-ekosistem
yang terarah memberikan peluang-peluang baru guna peningkatan kualitas
lingkungan dan pengelolaan pertanian. Dalam hal ini pengertian hubungan timbal
balik antara gulma, penyakit, hama dan lain-lain dengan cara pengendalian yang
digunakannya harus dipahami secara jelas. Produksi tanaman budidaya harus
diarahkan serentak guna pengendalian gulma dan jasad pengganggu lainnya
secara efisien dan lebih berhasil.
G. Masalah yang Timbul dan Resiko Sistem Pengelolaan Gulma Terpadu
Di dalam membahas keuntungan-keuntungan yang ditimbulkan pada
penerapan sistem pengendalian gulma terpadu, kita harus juga melihat potensi
permasalahan yang akan ditimbulkannya. Kita tanpa sadar biasanya
mengemukakan hanya segi keuntungannya saja dalam segala masalah tanpa
Pengendalian Gulma 83
membicarakan kerugian-kerugian yang timbul yang sebenarnya berhubungan erat
satu sama lain. Resiko yang paling besar dan berbahaya dari pengendalian gulma
secara kimiawi adalah penggunaannya yang salah atau tidak tepat. Pendidikan dan
latihan yang tidak sempurna terhadap tenaga-tenaga pelaksana di lapangan
biasanya merupakan penyebab utama. Kesalahan-kesalah umum lainnya yang
biasa dilakukan adalah penggunaan tempat yang tidak memenuhi syarat untuk
herbisida dan kegagalan di dalam memberikan jaminan keamanan bagi hewan
atau anak-anak setelah pelaksanaan pengendalian. Pencemaran lingkungan atau
pengaruh-pengaruh negatif lainnya yang mungkin timbul, baik terhadap hewan
maupun manusia perlu dimonitori secara teratur dan seksama. Jika mungkin suatu
tim nasional perlu dibentuk untuk memonitor pengaruh-pengaruh sampingan
pestisida dan resikonya terhadap makanan, air, tanah, ternak, dan hewan-hewan
liar.
Meskipun kemungkinan - kemungkinan terbentuknya jenis-jenis gulma yang
tahan terhadap pengaruh herbisida secara genetik adalah besar, para ahli percaya
bahwa hal ini tidak akan menimbulkan masalah yang serius, apalagi jika para
petani menggunakan jenis-jenis herbisida yang tidak selalu sama dari musim ke
musim dan menerapkan sistem pengelolaan gulma terpadu dengan baik.
Menurut Soerjani dan Motooka (1975), usaha pendekatan pengendalian gulma
secara terpadu dapat dilakukan secara terpadu, horizontal maupun vertikal. Usaha
pendekatan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam pengelolaan gulma di
perkebunan. Dalam praktek pengendalian terpadu vertikal sedemikian pentingnya
sehingga seolah-olah pengendalian gulma (weed management) itu merupakan
konsepsi yang hanya berisikan perilaku secara vertikal saja (Gambar 8.1).
Gambar 8.1. Empat tahapan prosedur Pengelolaan Gulma
Pencirian masalah
Pemilihan cara
pengendalian
Perencanaan pengelolaan gulma
jangka panjang
Pengawasan pelaksanaan
pengendalian
(implementation)
Diikuti tahapan
berikutnya
Tanpa tahapan
Umpan balik
Pengendalian Gulma 84
Padahal, dalam praktek, pendekatan secara horizontal menentukan pula
kemantapan dalam menganalisis atau memperinci persoalannya, jadi menentukan
pula tepat tidaknya cara yang dipilih dan seterusnya berarti pula menentukan
berhasil tidaknya tindakan pengendalian itu sendiri.
Tabel 8.1. Pendekatan Terpadu Horizontal dan Vertikal dalam Pengelolaan Hama
Cara
Permasalaan
Gulma Insekta Penyakit
Binatang
menyusui
Pencegahan - - -- -Terpadu horizontal --
Fisik
Hayati
Kimiawi Terpadu vertikal
Cara-cara
lainnya
1. Usaha pendekatan pengendalian terpadu horizontal
Pengendalian terpadu horizontal diperlukan untuk memperoleh pencirian yang
setepat-tepatnya mengenai hubungan timbal balik antara masalah gulma demngan
lingkungan menurut pola ekosistem pada umumnya, baik masalah insekta,
penyakit, nematoda, binatang menyusui, maupun masalah teknis ekonomi dan
sosial lainnya. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
apabila suatu tindakan pengendalian dilaksanakan, serta resiko yang harus
dihadapi apabila tidak dilakukan pengendalian sama sekali.
Dengan demikian pendekatan pengendalian terpadu horizontal adalah
pengendalian terpadu yang lintas disiplin (cross-diciplinary integration) terhadap
suatu model pengelolaan hama (pest management).
Dari berbagai pengalaman dapat dikumpulkan berbagai keterangan mengenai
adanya hubungan horizontal dengan pengelolaan hama.
2. Usaha pendekatan pengendalian terpadu vertikal
Pengendalian gulma secara terpadu vertikal mengandung pengertian, bahwa
pengendalian itu dilakukan secara terpisah-pisah (tersendiri) atau kombinasi
antara pencegahan, fisik, hayati, kimiawi, dan cara-cara lainnya, sehingga terjadi
penurunan populasi gulma dan hal itu dipertahankan di bawah tingkat kerusakan
ekologi (ecological injury level).
H. Prinsip Ambang Ekonomi Dalam Pengelolaan Gulma
Kesadaran akan keadaan lingkungan telah memacu cepat perkembangan
ekologi. Perkembangan ini juga memacu penelaahan konsep yang telah ada dari
beberapa ilmu yang erat hubungannya dengan ekologi dengan prinsip dan
pengertian baru. Salah satu ilmu tadi adalah ilmu gulma, yang walaupun relatif
masih muda, telah mengalami perkembangan yang pesat karena memanfaatkan
teknologi dari ilmu lain.
Gulma, yaitu tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki oleh
manusia, sebenarnya telah lama dikenal dan dirasakan pengaruhnya. Bahkan 10
000 tahun sebelum Masehi pada saat manusia primitif diperkirakan sejak mulai
Pengendalian Gulma 85
bercocok tanam secara primitif pula, ia harus memilih tanah yang subur dan
sedikit gulmanya (biasanya di delta sungai). Dengan perkembangan sistem irigasi
di daerah S. Eufrat dan Tigris di daerah Mesopotamia atau di daerah S. Nil di
Mesir, pertanian menjadi lebih maju, tetapi masalah gulma ternyata menjadi lebih
besar.
Masalah gulma dalam sistem pertanian yang begini masih dapat diatasi
dengan baik dengan cara sederhana, yaitu menyiangi dan hal ini telah menjadi
kebiasaan bertani sejak mula, yaitu bahwa who weeding slacketh, good husbandry
lacketh, ’siapa-siapa yang tidak cukup menyiangi tanamannya, akan mendapat
hasil yang hanya sedikit’ (Tusser, 1957).
Dalam perkembangan selanjutnya, petani-petani Eropa telah memakai
mesin/traktor dan masalah gulma sekaligus dapat dipecahkan dengan membajak
tanah, kemudian diikuti dengan pergantian tanaman dan sanitasi yaitu memakai
bibit yang bersih dari biji gulma (Elliot, 1970). Perkembangan ini oleh ahli
hortikultura Eropa terutama orang Belanda di bawa ke daerah tropis, terutama ke
Indonesia. Pembukaan perkebunan secara luas di daerah tropis dilakukan dengan
cara-cara yang biasa mereka ikuti dalam kebun buah-buah di daerah beriklim
sedang. Kebiasaan mereka untuk menyiangi gulma sehingga kebun-kebunitu
tanahnya bersih dari gulma dipraktekan di daerah tropis dengan tidak menyadari
bahwa keadaan daerah tropis berlainan (van Lennep, 1912; Ratten & Hearer,
1956). Usaha ini banyak mengalami kegagalan dan diperlukan waktu bertahuntahun
bagi mereka untuk yakin bahwa kebun yang tanahnya terbuka akan cepat
rusak karena erosi. Tetapi gulma yang berlebihan juga akan bersaing dengan
tanaman budidaya dan dapat menurunkan produksi. Dalam hubungan ini maka
telah dikembangkan konsep ambang ekonomi (economic threshold). Konsep ini
telah lama menarik perhatian para ahli, ada yang menerapkan dalam bidang
entomologi (Edwards & Heath, 1964; Headley, 1975), nematologi (Barker &
Olthof, 1976), fitopatologi (Calson & Main, 1976), atau ilmu gulma (Soerjani,
1977). Sementara pentingnya ambang ekonomi dalam penentuan keputusan telah
disadari, maka konsepsinya sendiri secara operasional masih sulit untuk
diterapkan, karena memerlukan administrasi dan sistem data yang lengkap. Dalam
kesempatan ini akan dibicarakan konsep ambang ekonomi secara lebih lengkap.
I. Konsep Ekosistem
Populasi tanaman, binatang, dan manusia bersama komponen
lingkungannya yang abiotik bersama-sama membentuk suatu satuan terpadu yang
disebut ekosistem. Komponen-komponen ekosistem ini bersama-sama
membentuk keseimbangan yang karakteristik untuk ekosistem itu. Apabila ada
usaha untuk mengurangi jenjang populasi suatu jenis tumbuhan atau binatang
dengan mempergunakan bahan kimia pestisida atau cara lain, maka komponenkomponen
ekosistem yang lain akan dipengaruhi. Oleh karena itu setiap tindakan
harus dipikirkan akibatnya secara keseluruhan terhadap semua aspek produksi
tanaman; seperti keadaan intensitas gulma, penyakit, hama, fisiologis tanaman
budidaya, kerentanan tanaman, dan lain sebagainya; termasuk kemungkinan
perubahan sosial ekonomi manusia yang berada di daerah itu.
Pengendalian Gulma 86
Teknologi pertanian terutama setelah Perang Dunia II secara fisik telah
mampu menaikkan produksi pertanian, tetapi jiga menciptakan suatu
keseimbangan yang rapuh dalam agro-ekosistem kita; teknologi itu menciptakan
suasana yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan hama, penyakit dan
juga gulma.
Apabila tidak diikuti dengan usaha manusia untuk menjaga keseimbangan
demi keuntungan manusia, populasi gulma, hama, dan penyakit akan begitu tinggi
hingga sangat merugikan manusia.
Ambang ekonomi (economic threshold), yaitu kepadatan gulma yng membutuhkan
suatu tindakan untuk mencegah peningkatan populasi berikutnya yang dapat
mencapai tingkatan luka ekonomi. Jadi ambang ekonomi lebih rendah daripada
tingkatan luka-ekonomi.
Tingkatan luka ekonomi (economic injury level), yaitu suatu kepadatan populasi
gulma terendah yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomi. Tingkatan ini
dapat beragam dari satu daerah ke daerah lainnya, dan dari satu musim ke musim
lainnya.
Kerusakan ekonomi (Economic damage), yaitu tingkatan kerusakan yang
membenarkan adanya pengeluaran biaya untuk pengendalian gulma buatan
(bukan alami).
Pengendalian alami (Natural control), yaitu suatu proses alam yang mampu
mempertahankan kepadatan populasi yang dinamis melalui kurun waktu yang
panjang dan berada di suatu batas atas dan bawah. Proses tersebut dipengaruhi
oleh kombinasi komponen-komponen biotis dan abiotis di dalam lingkungan
suatu gulma. Pengendalian alami mencakup semua aspek lingkungan, termasuk
faktor-faktor yang secara langsung dapat menyebabkan adanya mortalitas,
penghambat pertumbuhan, dan sebagainya; maupun pengaruh yang tidak langsung.
Mekanisme pengatur, yaitu gerakan dari faktor-faktor lingkungan, baik sendirian
atau bersama, yang semakin meningkat aktivitasnya bila kepadatan populasi
meningkat atau sebaliknya semakin berkurang bila kepadatan populasi menurun.
Hal ini menghasilkan suatu keadaan populasi yang berkisar pada keseimbangan
tertentu.
Keseimbangan umum (General equilibrium), yaitu suatu kepadatan populasi
gulma rata-rata yang meliputi suatu daerah yang luas dan bersifat sementara, yang
diakibatkan oleh beberapa tindakan manusia.
Pengendalian terpadu (Integrated control), yaitu pengendalian gulma yang
memanfaatkan beberapa metode pengendalian untuk mencapai populasi di bawah
ambang ekonomi.
Letak ambang ekonomi, yaitu letak relatif ambang ekonomi terhadap
keseimbangan umum dapat menentukan tingkatan bahaya suatu permasalahan
gulma. Meskipun tidak ada perubahan lingkungan yang drastis dan tetap,
keanekaragaman di dalam komponen abiotis maupun biotis ekosistem cukup
menyebabkan kepadatan populasi spesies yangberubah-ubah walaupun biasanya
tetap sekitar keseimbangan umum. Bila kepadatan populasi meningkat, aktivitas
mekanisme pengaturan populasi meningkat pula, sehingga dapat membatasi
Pengendalian Gulma 87
kenaikan populasi. Sebaliknya bila kepadatan populasi menurun, maka
mekanisme pengatur ini menjadi kendor. Aktivitas pengaturan dalam alam ini
sering disebut sebagai sistem umpan balik (feedback system). Dalam jangka
panjang interaksi antara populasi spesies dengan pengatur kepadatan dan faktor
lingkungan lainnya, menentukan letak keseimbangan umum. Jadi hanya dengan
adanya peningkatan faktor-faktor biotis maupun abiotis yang ada dalam ekosistem
atau adanya faktor baru ke dalam ekosistem, letak keseimbangan umum dapat
diubah sesuai kehendak kita. Dalam jangka panjang inilah yang disebut
manajemen gulma, yaitu mengubah keseimbangan ekosistem untuk keuntungan
kita.
Letak relatif ambang ekonomi suatu spesies gulma dapat berada di atas, di
bawah atau pada tingkatan yang sama dengan letak keseimbangan umum.
Gulma seperti Ageratum conyzoides di perkebunan karet telah tumbuh secara
maksimal tetapi populasinya masih rendah karena terlindung gulma lain, jadi
masih jauh di bawah toleransi ekonomi dan tidak atau belum menjadi masalah
(lihat Gambar 8.2.A).
Gambar 8.2.B menunjukkan posisi relatif ambang ekonomi; kadang-kadang
populasi meningkat melampaui ambang ekonomi sehingga harus dilakukan
pengendalian. Begitu juga pada Gambar 8.2.C, hanya di sini posisi ambang
ekonomi itu hampir berimpit dengan posisi keseimbangan umum sehingga perlu
lebih sering dilakukan pengendalian, seperti dengan alang-alang (Imperata
cylindrica) dan Mikania cordata. Pada perkebunan tembakau kadang-kadang
tidak dikehendaki adanya gulma; keadaan ini dapat digambarkan sebagai Gambar
8.2.D. Dalam hal serangga, nyamuk adalah salah satu contoh yang baik, sebab
setiap ada nyamuk selalu dikhawatirkan membawa penyakit yang membahayakan
masyarakat; dalam cara demikian kita perlu mengendalikan gulma di perkebunan
tembakau.
Pengendalian Gulma 88
Gambar 8.2. Beberapa letak relatif ambang ekonomi terhadap keseimbangan
umum. (A: tidak memerlukan pengandalian; B. Dan C: kadangkadang
perlu; D : senantiasa perlu)
J. Analisis Ekonomi terhadap Konsep Ambang Ekonomi
Konsep ambang ekonomi telah dikembangkan oleh para ahli ekonomi,
terutama Prof. Headley dalam karangannya yang berjudul Defining of Economic
Threshold pada tahun 1972. Pendekatan ambang ekonomi Headley inilah yang
kemudian menjadi dasar bagi ahli-ahli ekonomi berikutnya dalam pengembangan
konsep ambang ekonomi tersebut.
Penentuan ambang ekonomi di sini didasarkan pada hubungan antara
keuntungn yang diperoleh petani oleh karena usaha pengendalian hama (penyakit,
gulma, atau serangga) dan biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Pengendalian
hama ditujukan untuk memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya
atau ongkos pengendalian. Analisis yang dipakai adalah analisis ekonomi mikro
tentang profit maximization dengan anggapan bahwa semua hasil pertanian di jual
Keseimbangan umum
Ambang ekonomi
Tingkat kerusakan ekonomi
Waktu
Keseimbangan umum
Ambang ekonomi
Tingkat kerusakan ekonomi
Waktu
Ambang ekonomi
Tingkat kerusakan ekonomi
keimbangan umum
Waktu
Keseimbangan umum
Ambang ekonomi
Tingkat kerusakan ekonomi
Waktu
perlakuan
Kepadatan populasi
(A) (B)
(C) (D)
Kepadatan populasi
Pengendalian Gulma 89
di pasar dengan sistem pemasaran persaingan bebas, sedangkan petani diangggap
selalu berusaha mencari keuntungan semaksimal mungkin.
K. Komponen-komponen Penyusun Ambang Ekonomi
Pada dasarnya petani dapat diharapkan akan meningkatkan pengeluaran biaya
untuk pengendalian gulma sampai suatu tingkatan sehingga uang yang
dikeluarkan akan sama dengan tambahan pendapatan dari usaha pertaniannya.
Tentunya sangat ideal bila petani mengetahui dengan pasti berapa jumlah
penurunan hasil, jumlah kerugian, berapa ongkos pemberantasan, bagaimana laju
pertumbuhan gulma, bagaimana hubungan antara populasi gulma dan penurunan
hasil, dan sebagainya. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian mudah, karena
banyak faktor yang mempengaruhi ambang ekonomi. Faktor-faktor itu dapat
dijelaskan dengan diagram yang tertera dalam Gambar 8.3.
Dari gambar 8.3. ini dapat dilihat bahwa keterangan tentang populasi gulma
diperlukan untuk menghitung pendapatan usaha perkebunan dan biaya
pengendalian gulma. Hubungan antara populasi gulma dan kerugian (kehilangan
kualitas dan kuantitas) sangat dipengaruhi oleh faktor iklim dan hayati.
Pengendalian Gulma 90
Gambar 8.3. Faktor-faktor ekonomi dan ekologi yang mempengaruhi ambang ekonomi
Kehilangan kuantitas
Kehilangan
kualitas
Faktor manajemen
dan operasional
Perbandingan biaya
untuk beberapa cara
pengendalian
Hubungan biaya
pengendalian dan
populasi gulma
Hubungan pendapatan
dan populasi gulma
Pertimbangan
resiko petani
Faktor iklim
dan hayati
Populasi
gulma Ambang
ekonomi
Hasil potensial yang
dipasarkan
Biaya
pengendalian
Usaha
pengendalian
Pengendalian Gulma 91
Ambang ekonomi ditentukan oleh 3 (tiga) faktor utama :
a. Pertimbangan resiko petani
Karena besarnya resiko ditentukan oleh pertimbangan pengambilan keputusan,
hal ini sangat bervariasi. Dalam hal perusahaan-perusahaan perkebunan mungkin
termasuk faktor pertimbangan pribadi disamping faktor ekonomis seperti
fluktuasi harga komoditi, kebijakan pemerintah, dan sebagainya.
b. Hubungan populasi gulma dan produksi
Hal ini dapat dicari dengan mudah apabila selama operasional data-data
dikumpulkan secara cermat. Tentu saja penelitian khusus akan memberikan data
yang lebih baik.
c. Hubungan antara populasi gulma dengan biaya pengendaliannya
Hal ini diperlukan untuk mencapai tingkatan populasi tertentu .
Faktor pada butir b dan c dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8.4.)
Gambar 8.4. Hubungan antara populasi gulma dan pendapatan/biaya pengendalian.
Garis pendapatan menunjukkan bahwa pada populasi gulma yang rendah, tidak
ada pengaruh pada produksi dan pendapatan. Keadaan ini tetap sampai mencapai
populasi gulma N1 yang biasanya disebut tingkat toleransi tanaman terhadap
kompetisi gulma. Dengan meningktanya populasi gulma, pendapatan akan turun
terus-menerus sesuai dengan garis pendapatan.
Garis biaya pengendalian menunjukkan bahwa semakin rendah populasi gulma
ang dikehendaki semakin besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Biaya
turun dengan laju yang semakin berkurang bila populasi hama yang diinginkan
semakin tinggi. Untuk suatu resiko yang telah diambil, ambang ekonomi dapat
ditentukan oleh kedua jenis hubungan tersebut diatas. Misalnya pada populasi N2
(pendapatan/biaya
pengendalian)
C1
C2
pendapatan
biaya pengendalian
N1 N2 populasi gulma
Pengendalian Gulma 92
yaitu ketika pertambahan laju biaya pengendalian sama dengan laju pendapatan
(Headley, 1972).
L. Model Matematik
Persamaan matematik sering kali lebih mampu menjelaskan hubungan yang ada
antara beberapa faktor. Penurunan hasil yang diakibatkan gulma merupakan fungsi
populasi gulma dan populasi gulma merupakan fungsi waktu.
Hubungan antara penurunan hasil dan populasi gulma dapat dinyatakan dalam
persamaan di bawah ini, dan lihat Gambar 8.4.
Dt = b Pt
2 – A ............................................................................................ 1)
di sini :
Dt = penurunan hasil pada waktu t
Pt = populasi gulma pada waktu t
A = konstanta yang menunjukkan tingkat toleransi terhadap gulma
b = parameter yang mwnunjukkan laju perubahan Pt
Gambar 8.5. Hubungan antara penurunan hasil (kerugian) dengan populasi.
Populasi gulma pada waktu t dipengaruhi oleh populasi pada waktu sebenarnya,
katakan Pt-n.
Perubahan populasi dari waktu (t-n) atau Pt-n ke populasi pada waktu t dapat
dinyatakan oleh persamaan umum populasi, yaitu :
Pt = Pt-n (1 + r)n .......................................................................................... 2)
di sini :
Pt-n = populasi gulma pada waktu (n) sebelum waktu t
r = laju kecepapatan pertumbuhan populasi untuk setiap unit waktu
Populasi (P)
Pt
Dt
0
A
Pengendalian Gulma 93
(1 + r)n = faktor pertumbuhan majemuk
Dengan memasukkan persamaan 2) pada persamaan 1) didapatkan suatu fungsi
yang menunjukkan pengaruh populasi gulma pada waktu (t-n) dan pada kerusakan
oleh gulma pada waktu t, sehingga kita dapatkan suatu persamaan baru, yaitu :
Dt = b [Pt-n (1 + r)n]2 – A ............................................................................. 3)
Persamaan 3) dapat digunakan untuk menentukan kerusakan yang diakibatkan
oleh gulma pada waktu yang akan datang (misal, waktu t), berdasarkan keadaan
populasi yang ada pada waktu sekarang (waktu (t-n)).
Besarnya produksi tanaman pada suatu waktu ditentukan oleh besarnya
penurunan hasil akibat gulma, dan pada hasil akhir dapat dijelaskan persamaan
berikut :
Y = N – c Dt ............................................................................................... 4)
di sini :
Y = produksi tanaman pada waktu panen
N = konstanta yang menyatakan produksi tanaman pada adanya kompetisi
gulma
c = parameter konstan yang mengukur laju pengaruh pada persamaan baru
populasi gulma.
Dengan mensubstitusikan persamaan 3) dan 4) kita mendapatkan persamaan baru
yang menjelaskan pengaruh populasi gulma terhadap produksi tanaman. Persamaan
tersebut adalah :
Y = N – c {b [ Pt-n (1 + r)n]2 – A} ................................................................ 5)
Pada persamaan ini Y adalah produksi tanaman dalam bentuk fisik, misalnya
dalam ukuran berat atau volume. Bila semua produksi yang dihasilkan oleh petani
dijual dengan harga R per unit, maka produksi dapat dinyatakan dengan nilai uang
yang besarnya :
V = R Y....................................................................................................... 6)
Persamaan 6) menunjukkan besarnya penerimaan total (total revenue) petani
dalam tingkatan populasi gulma tertentu.
Komponen terakhir model ambang ekonomi yang berhubungan dengan biaya
pengendalian gulma adalah untuk mempertahankan populasi pada tingkatan tertentu.
Dengan anggapan bahwa hubungan ini kontinyu, yaitu berkurang bila populasi
dibiarkan meningkat dan laju pengurangan biaya semakin kecil, maka fungsi biaya
dapat dinyatakan oleh persamaan 7.
O = L/Pt-n ....................................................................................................................................................... 7)
Pengendalian Gulma 94
di sini :
O = total biaya
L = parameter konstan yang mempengaruhi laju perubahan biaya.
Persamaan 6) dan 7) jika digambarkan secara grafik akan nampak seperti pada
Gambar 29.
Selisih antara penerimaan total dan biaya total merupakan keuntungan atau laba
yang diperoleh petani pada tingkatan populasi gulma tertentu.
Fungsi laba dapat dinyatakan sebagai berikut :
_ = V – O
_ = RY – O ................................................................................................. 8)
untuk
_ = laba
Menurut Headley, ambang ekonomi merupakan suatu keadaan dengan tingkatan
populasi yang dapet memberikan laba maksimum bagi petani setelah dia melakukan
usaha pengendalian. Secara matematis lebe maksimal tercapai bila turunan pertama
persamaan 6) sama dengan persamaan 7), atau
dV/dPt-n = dO/dPt-n .............................................................................................................................. 9)
Tingkatan populasi Pt-n yang memberikan laba maksimum dapat dihitung dengan
mengambil diferensial parsial pertama dari fungsi laba.
Dengan mensubstitusikan persamaan 5) dan 6) ke persamaan 8) kita dapat
memperoleh fungsi laba.
_ = R (N – c{b [Pt-n(1 + r)n]2 – A}) – L/Pt-n .......................................................................... 10)
Diferensiasi parsial pertama persamaan 10) dengan Pt-n sebagai dasar adalah :
_ _/_ Pt-n = 2 RcbPt-n(1 + r)2n + L/Pt-n ..................................................................................... 11)
Kita ketahui dari teori ekonomi mikro bahwa laba maksimum tercapai bila :
_ _/_ Pt-n = O ............................................................................................ 12)
sehingga bila persamaan 12) kita selesaikan untuk Pt-n, maka kita dapatkan populasi
gulma yangmerupakan ambang ekonomi menurut definisi Headley (1972) yang
besarnya
Pt-n* = [L / {(1 + r)2n 2 Rcb}]1/3 .................................................................. 13)
Pengendalian Gulma 95
Perlu diketahui bahwa pendekatan Headley mengenai ambang ekonomi
mempergunakan prinsip maksimasi laba untuk keadaan pasar yang kompetitif
sempurna (perfectly competitive). Menurut teori ekonomi mikro (Koch, 1976), pasar
dalam keadaan kompetitif sempurna mempunyai beberapa sifat antara lain :
1. Jumlah pembeli dan penjual banyak
2. Tidak ada seorang pembeli atau penjualyang mampu mempengaruhi harga di
pasar
3. Setiap hasil dari petani/produsen seragam, tidak dapat dibedakan satu dengan
yang lain
4. Mobilitas sumber daya sempurna, artinya sumber daya akan mengalir ke
tempat yangmemberikan laju pengambilan yang tinggi dan sebaliknya. Tidak
ada batasan-batasan hukum, peraturan, milai sosial, dan ekonomi yang dapat
menghalangi efisiensi alokasi sumberdaya
5. Pengetahuan sempurna dimiliki oleh pembeli maupun penjual, dan
6. Setiap petani/produsen/usahawan selalu berusaha untuk memaksimumkan
keuntungan.
Meskipun di Amerika serikat atau negara-negara Eropa Barat, keadaan pasar yang
kompetitif sempurna jarang dijumpai, apalagi di Indonesia dan negara berkembang
lainnya. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa rumusan ambang ekonomi di atas
masih merupakan pendekatan yang kasar.
M. Contoh Perhitungan Ambang Ekonomi Menurut Headley
Untuk mempermudah pengertian kita tentang ambang ekonomi menurut Headley,
seperti telah diuraikan di atas, diberikan contoh sederhana tentang cara
menghitungambangekonomi. Contoh yang dipergunakan masih mempergunakan data
hipotesis, sedangkan persamaan-persamaan lebih disederhanakan.
Daftar 35 menunjukkan suatu data hipotesis tentang populasi gulma yang
dihadapi oleh seorang petani, dan usaha pengendalian yang dilakukan, serta produksi
tanaman yangdiperolehnya. Kolom I menunjukkan populasi gulma yang sebagai unit
sample diambil 25 x 25 cm2. Kolom II adalah produksi dalam kg/ha. Hubungan
produksi dan populasi gulma dinyatakan oleh persamaan:
Y = 500 (200 – N) ....................................................................................... 14)
Pengendalian Gulma 96
Tabel 8.2. Pengaruh Populasi Gulma terhadap Produksi Tanaman dan Biaya
yang Dikeluarkan untuk Pengendalian Hama*
I
Populasi
Gulma
(N)
II
Produksi
(Y) kg/ha
III
Harga
(H)
Rp/kg
IV
Pendapatan
Total (DT)
(Rp)
V
Pendapatan
Marginal
(DM)
(Rp)
VI
Biaya
Total
(OT)
(Rp)
VII
Biaya
Marginal
(OM)
(Rp)
VIII
Laba
(L)
(Rp)
0 10 000 8 80 000 4 000
1 9 500 8 76 000 4 000 70 000 35 000 6 000
2 9 000 8 72 000 4 000 35 000 11 670 37 000
3 8 500 8 68 000 4 000 23 330 5 830 44 760
4 8 000 8 64 000 4 000 17 500 3 500 46 500
5 7 500 8 60 000 4 000 14 000 2 330 46 000
6 7 000 8 56 000 4 000 11 670 1 670 44 330
7 6 500 8 52 000 4 000 10 000 1 250 42 000
8 6 000 8 48 000 4 000 8 750 970 39 250
9 5 500 8 44 000 4 000 7 780 780 36 220
10 5 000 8 40 000 4 000 7 000 640 33 000
11 4 500 8 36 000 4 000 6 360 530 29 640
12 4 000 8 32 000 4 000 5 830 26 170
* Data hipotesis
Kolom III merupakan harga produksi sebesar Rp 8,-/kg, yang dianggap konstan
dan tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi. Kolom IV merupakan penerimaan total
(DT) yang diperoleh dari hasil perkalian antara produksi (Y) dan harga (H). Kolom V
merupakan penerimaan marginal (DM) yang menunjukkan besarnya perubahan DT
untuk setiap unit perubahan populasi,atau dengan rumus matematik dapat dinyatakan:
DM = dDT/dN ............................................................................................ 15)
Oleh karena harga dianggap tetap, DM besarnya tetap yaitu Rp 4 000,-. Biaya total
(OT) yang dikeluarkan terdapat pada kolom VI. Biaya tersebut dikeluarkan untuk
mengendalikan hama dengan mempergunakan metode tertentu sehingga populasi
dapat dipertahankan pada kepadatan tertentu (kolom I). Hubungan antara biaya dan
populasi dinyatakan dalam persamaan berikut :
O = 70 000/N ............................................................................................ 16)
Dari persaman 16) dan daftar 35 bisa dimengerti bahwa petani harus mengeluarkan
biaya lebih banyak untuk menekan populasi hama ke bawah. Kolom VII
menunjukkan biaya marginal (OM) yangmerupakan dOT/dN, dan kolom VIII
merupakan laba yang besarnya = DT – OT.
Tujuan petani dalam mengusahakan pertaniannya adalah untuk memperoleh
keuntungan semaksimal mungkin, dan ini diperoleh bila selisih antara OT dan OM
maksimum. Pada Daftar 35 kita lihat bahwa laba maksimum (Rp. 46 500,-) dicapai
pada kepadatan populasi 4 gulma dalam 25 x 25 cm2. kepadatan populasi inilah yang
kemudian disebut sebagai ambang ekonomi bagi petani untuk gulma dari tanaman
yang dibicarakan ini.
Pengendalian Gulma 97
Dapat dilihat pada Gambar 8.6. bahwa selisih antara DT dan OT mencapai
maksimum pada garis yang melalui titik A (AC) yang mempunyai populasi gulma 4
per 25 x 25 cm2 atau lebih tepat 4.18 batang. Pada titik B, lereng (slope) kurva OT
Sejajar dengan lereng garis DT (sama dengan garis DT itu sendiri). Dengan rumus
matematik sederhana dapat dinyatakan bahwa pada titik B : dDT/dN = dOT/dN atau DM
= OM.
Ambang ekonomi juga dapat kita cari dari pertemuan antara garis DM dan kurva
OM seperti terlihat pada Gambar 8.7. Kedua fungsi tersebut bertemu pada titik N
yang menunjukkan populasi gulma sebesar 4.18 batang. Angka 4.18 tersebut
diperolah dengan mensubstitusikan turunan pertama persamaan 14) dan persamaan
16).
Dari uraian dan contoh sederhana diatas kita dapat mengerti bahwa apa yang
diartikan ambang ekonomi oleh ahli-ahli ekonomi ialah tingkatan populasi gulma
yang dicapai bila penerimaan marginal petani dari usahanya sama dengan biaya
marginal yang ia keluarkan untuk pengendalian gulma. Bila DM > OM, laba masih
dapat ditingkatkan dan proses pengendalian gulma perlu diintensifkan, tetapi
sebaliknya DM < OM, laba yang diperoleh akan semakin kecil sehingga pengendalian
gulma tidak perlu ditingkatkan lagi.
Pengendalian Gulma 98
Gambar 8.6. Hubungan antara populasi gulma dengan Penerimaan Total dan Biaya
Total untuk mengendalikan gulma (data hipotesis)
B
C
Penerimaan atau Biaya Total (dalam ribuan Rp)
maksimum
Penerimaan Total (DT)
Biaya Total (OT)
Populasi gulma
A
2 4 6 8 10 12 14
80
70
60
50
40
30
20
10
Pengendalian Gulma 99
Gambar 8.7. Hubungan antara populasi gulma dengan Penerimaan Marginal dan
Biaya Marginal untuk mengendalikan gulma (data hipotesis)
Penerimaan atau Biaya Total (dalam ribuan Rp)
Populasi gulma
Penerimaan Marginal (DM)
Biaya Marginal (OM)
N
2 4 6 8 10 12 14
120
100
80
60
40






Gulma Perkebunan dan Strategi Pengendaliannya
PENGENDALIAN GULMA DI TANAMAN PERKEBUNAN
Istilah “perkebunan” atau estate sudah lama dikenal di Indonesia. Pada tahun
1938 terdapat 243 perkebunan besar di Indonesia. Berdasarkan fungsinya perkebunan
merupakan usaha untuk menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan
devisa negara, dan pemeliharaan kelestarian sumber daya alam. Perkebunan
berdasarkan pengelolaannya dibagi menjadi perkebunan rakyat, perkebunan besar,
perkebunan inti rakyat, dan unit pelaksana proyek.
Tahapan prosedur pengelolaan gulma di perkebunan dimulai dengan identifikasi
masalah, pemilihan cara pengendalian dan implementasinya. Jika terjadi kesalahan
dalam pemilihan ncara atau implementasi pengendalian, maka diperlukan umpan balik
(Gambar 9.1). Masalah gulma di perkebunan timbul sejak land clearing sampai
dengan tanaman menghasilkan (Gambar 9.2). Untuk itu perlu pengelolaan secara
efisien dan bijaksana. Dampak negatif yang ditimbulkan gulma antara lain persaingan
sarana tumbuh, mengganggu operasional di lapangan, sumber hama dan penyakit
tumbuhan, sekresi zat-zat alelopati, serta penurunan nilai estetika. Semua kerugian
tersebut dapat menurunkan produksi pertanian.
Gambar 9.1 Empat Tahapan Prosedur Pengelolaan Gulma
Identifikasi Masalah
Pemilihan Cara Pengendalian
Implementasi Pengendalian
Perencanaan Pengelolaan
Gulma Jangka Panjang
Pengendalian Gulma 101
Diikuti tahapan berikutnya
= Tanpa tahapan
Umpan balik
Gambar 9.2 Skema Budidaya Tanaman Perkebunan dan Hubungannya dengan
Masalah Gulma (Zaman, 2007)
Klasifikasi Gulma
Berdasarkan tingkat bahayanya gulma diklasifikasikan secara teknis sebagai berikut :
1. Kelas A : Gulma sangat berbahaya (noxious weed)
2. Kelas B : Gulma berbahaya
3. Kelas C : Gulma yang kurang kompetitif dan dapat ditolerir, akan tetapi
memerlukan pengendalian yang teratur. Bisa bermanfaat untuk
mencegah erosi
Pemetaan (Bloking)
Land Clearing
Pengajiran
Lubang Tanam
Tanam
Tan. Tahun Ini
TBM
Panen TM
Masalah Gulma
LCC
Pemeliharaan
Pembibitan
Pengendalian Gulma 102
4. Kelas D : Gulma yang relatif tidak berbahaya, dapat bermanfaat bagi ekosistem
kebun.
Imperata cylindrica (alang-alang) dan Chromoaena odorata (kirinyu) adalah
contoh gulma yang termasuk dalam kelas A. Gulma yang termasuk dalam klasifikasi
B diantaranya Mikania micrantha dan Clidemia hirta. Contoh gulma yang termasuk
dalam kelas C adalah Borreria alata. Gulma Ageratum conyzoides (babadotan)
termasuk dalam klasifikasi D.
Gambar 9.3 Imperata cylindrica Gambar 9.4 Mikania micrantha
Gambar 9.5 Asystasia gangetica Gambar 9.6 Cyclossorus aridus
Landclearing dan Masalah Gulma
Landclearing adalah langkah awal dalam pembukaan kebun. Vegetasi umum
yang terdapat pada saat dilakukannya landclearing antara lain semak berkayu, alangPengendalian
Gulma 103
alang di pakis (pada lahan gambut). Kondisi lahan dan vegetasi akan berpengaruh
terhadap teknik pembukaan yang dilakukan.
Teknik landclearing meliputi :
1. Pembakaran
Pembakaran merupakan cara yang termurah tapi dapat menimbulkan bahaya
kebakaran dan polusi asap, sehingga cara tersebut dilarang untuk dilakukan.
Pembukaan lahan dengan api termasuk kategori tindak pidana.
2. Cara Mekanis
Cara mekanis dilakukan bila kemiringan lahan kurang dari 15 %. Semak belukar
yang ada dibersihkan dengan buldoser, lalu dikumpulkan pada jalur-jalur tertentu.
3. Cara Manual
Cara ini lebih fleksibel tetapi membutuhkan Hari Orang Kerja yang besar. Semak
belukar yang ada ditebas, dan sisa-sisa akar dari semak belukar didongkel (DAK)
lalu di rumpuk.
4. Cara Kimia
Herbisida diaplikasikan sebagai herbisida pra tanam. Pada tanah mineral digunakan
herbisida yang selektif dan sistemik. Sedangkan pada tanah gambut dan pasang
surut digunakan herbisida kontak dan non selektif. Di tanah mineral, teknik ini
sering dipakai pada lahan yang didominasi alang-alang. Penyemprotan pertama
adalah Blanket Spraying yang kemudian diikuti oleh semprotan koreksi dua minggu
setelah penyemprotan pertama (Gambar 9.3).
Gambar 9.7 Contoh Mekanisme Pembukaan Lahan yang Diinvasi Gulma Alang-alang
dengan Aplikasi Herbisida.
Alang-Alang
Blanket Spraying
Glifosat 6-8l/ha
Volume semprot
500-800 l/ha
Spot Spraying
Glifosat 1%
Volume semprot
tergantung kondisi.
Ajir dan Lubang Tanam Rebahkan
Pengendalian Gulma 104
A. KELAPA SAWIT
Kelapa sawit berperan penting sebagai penghasil devisa negara. Kontribusi
minyak sawit terhadap konsumsi minyak nabati di dunia, yaitu sebesar 13.6 % pada
tahun 1990 dan sebesar 18.4 % pada tahun 1999 (Poeloengan et al., 2001). Untuk
produksi CPO di Indonesia tahun 1988 sebesar 1 713 335 ton dan meningkat menjadi
6 004 889 ton pada tahun 1999 (Dirjenbun, 2001).
Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma di perkebunan kelapa sawit, antara lain
(1) pertumbuhan tanaman kelapa sawit muda terhambat sehingga biaya pemeliharaan
TBM meningkat, (2) produksi TBS menurun karana kompetisi tanaman dengan gulma
sehingga menyulitkan kegiatan operasional kebun seperti pemupukan, dan panen, (3)
ancaman bahaya kebakaran, serta (4) keberadaan gulma di piringan atau yang
menempel pada pokok sawit akan menyulitkan pengamatan jatuhnya brondolan
sehingga terlambat panen. Sebelum tahun 1970 pengendalian gulma kelapa sawit
umumnya manual, sedangkan setelah tahun 1970 sekitar 75 % pengendalian dilakukan
secara kimia
Pengendalian Gulma di Pembibitan
Pada saat prenursery (pembibitan pendahuluan), lahan harus diupayakan bebas
gulma. Gulma-gulma yang berada di sekitar polybag dikendalikan secara manual
dengan cara mencabutnya dengan tangan, sedangkan gulma di sekitar polybag
dibersihkan dengan cara dikored atau dicangkul. Standard kerja untuk pengendalian
gulma di pembibitan kelapa sawit adalah 15-20 HK/ha/pusingan dengan rotasi 3
minggu. Gulma diantara polybag, dapat disemprot dengan diuron 2.0 – 2.5 kg/ha,
volume semprot 550 – 600 l/ha.
Pengendalian Gulma di Areal Pertanaman
Kusnanto (1991) melakukan analisis biaya pengendalian gulma di perkebunan
kelapa sawit selama satu tahun. Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), jika
dibandingkan dengan biaya pengendalian manual, biaya pengendalian dengan
herbisida kontak lebih rendah 13-21%, sedangkan dengan herbisida sistemik mampu
menekan hingga lebih rendah 33-42%.
Pengendalian Gulma 105
Pada Tanaman Menghasilkan (TM), jika dibandingkan dengan pengendalian
manual biaya pengendalian dengan herbisida kontak lebih murah 13-17%, sedangkan
dengan herbisida sistemik lebih rendah 18-27%.
Pengendalian Gulma di TBM
Alang-alang (Imperata cylindrica (L) Beauv) dan sembung rambat (Mikania
mcrantha HBK) sering menjadi masalah di areal perkebunan kelapa sawit TBM.
Kondisi alang-alang tersebut bisa berbentuk sheet,vlekken atau sporadis.
Tabel 9.1 Klasifikasi kondisi alang-alang ( I. cylindrica).
No. Klasifikasi Kondisi per sampel
1 Sheet E 20 rumpun
2 Vlekken 10 – 20 rumpun
3 Berat 10 – 20 batang
4 Sedang
- Tahun 0
- Tahun 1
- Tahun 2
- Tahun 3
- TM
7 – 9 batang
6 – 9 batang
5 – 9 batang
4 – 9 batang
4 - 9 batang
5 Ringan
- Tahun 0
- Tahun 1
- Tahun 2
- Tahun 3
- TM
1 – 7 batang
1 – 5 batang
1 – 4 batang
1 – 3 batang
1 - 3 batang
Bebas alang-alang
Tahun 0 -TM
F 3 batang
Keterangan : ukuran sampel 20 m x 20 m
Untuk mengendalikan gulma alang-alang pada kondisi sheet atau vlekken,
lakukan aplikasi Blanket dengan glifosat 1%, dengan volume semprot 500 l/ha atau
dalapon 1%. Standard hari kerja dengan pengendalian kimia adalah 6-8 HK/ha,
sedangkan cara manual dengan cangkul 75 HK/ha.
Pada kondisi berat hingga sedang, aplikasi spot spraying dengan glifosat 1%
atau dalapon 1% , Standard kerja 3 HK/ha. Pada kondisi ringan lakukan wipping
dengan glifosat 0.6-1.0%, rotasi 8 kali/tahun, Standard kerja 0.5 HK/ha.
Pengendalian Gulma 106
Gulma sembung rambat dikendalikan dengan 2.4 D Amina atau MCPA dengan
dosis 1.5 – 2.0 l/ha dicampur Teepol 0.5 l/ha, volume semprot 500 – 600 l/ha, dan
Standard kerja 6 HK/ha. Sembung rambat dapat dikendalikan secara manual dengan
cara menggulung dan mengeringkan gulma tersebut di tepi jalan kebun.
Perawatan penutup tanah (LCC) dilakukan secara manual hingga kondisi W1.
Stándar kerja 13.5 HK/ha. Untuk perawatan bokoran, dilakukan secara manual
dengan parang panjang atau arit, dengan Standard kerja 3 HK/ha, dan rotasi 8
kali/tahun. Pada TBM 1, jari-jari bokoran yang dibersihkan adalah sekitar 1.0 m. Pada
TBM 2 dan 3, bisa dilakukan aplikasi glifosat atau paraquat dengan konsentrasi 0.4-
0.6 % volume semprot 400-600 l/ha. Pada TBM 2 dan 3, jari-jari bokoran yang
dibersihkan adalah sekita 1.5 dan 2.0 m.
Ada beberapa istilah di kebun yang menunjukkan kebersihan areal.
W0 = Areal bersih gulma, yang ada hanya tanaman pokoknya saja. Areal tersebut
terdapat pada bokoran sawit atau jalur tanaman karet.
W1 = Areal yang ditumbuhi oleh LCC murni, terdapat pada gawangan sawit atau
karet.
W2 = Areal yang ditumbuhi oleh LCC dan gulma lunak dengan perbandingan 85% :
15%.
W3 = Areal yang ditumbuhi oleh LCC dan gulma lunak dengan perbandingan 70% :
30%.
W4 = Areal gawangan yang ditumbuhi oleh gulma lunak. Gulma kelas A dan B
dibersihkan.
W5 = Areal gawangan yang ditumbuhi oleh gulma sampai ketinggian 30 cm. Areal
tersebut tidak boleh ditumbuhi alang-alang dan gulma berkayu.
Pengendalian Gulma di TM
Pada bokoran dengan jari-jari 2 m, dilakukan clean weeding (Wo) dengan
glifosat atau paraquat 0.4-0.6 %, volume semprot 400-600 /ha, rotasi 4 kali/tahun.
Pada pasar pikul/jalan buah dan TPH dapat dilakukan secara manual atau kimia.
Pengendalian secara kimia biasa dilakukan dengan kombinasi glifisat 0,4 % +
metil-metsulfuron 0,005 %, rotasi 3 kali/tahun atau penggunaan paracol 2,0-2,5 l/ha.
Pengendalian Gulma 107
Pengendalian di gawangan dilakukan pembabatan dan DAK hingga kondisi W3-W5.
Pengendalian juga dapat dilakukan dengan aplikasi blanket satu kali setiap tahunnya.
b c b c
Keterangan :
x : pokok/tanaman kelapa sawit
a : daerah bokoran (Wo)
b : pasar pikul atau gawangan hidup
c : pasar mati atau gawangan mati
d : TPH
daerah yang diarsir (areal diluar bokoran) merupakan arealW1-W5.
Gambar 9.8 Skema Pertanaman Sawit
B. KARET
Di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Sumatera Selatan dan Jambi, karet
menjadi komoditas sosial. Luas areal perkebunan karet di Indonesia pada 1995 adalah
3 495 901 ha dengan produksi 1 573 303 ton karet kering. Pada 2000 terjadi
perbesaran gambar
bokoran/piringan sawit
X
a
W1-W5
W1-W5
W1-W5
WI-W5
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
d
x
x
x
x
d
Pengendalian Gulma 108
penurunan menjadi 3 372 421 ha dengan produksi 1 501 428 ton karet kering
(Ditjenbun, 2002).
Pengembangan perkebunan karet menurut Direktorat Jenderal Tanaman
Perkebunan (2002) didominasi oleh perkebunan rakyat sebanyak 85.5%, perkebunan
besar swasta menguasai sekitar 8.2%, sedangkan perkebunan negara hanya sebanyak
6.3%.
Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma di pertanaman karet, antara lain, (1)
pertumbuhan dan matang sadap terhambat hingga tiga tahun, (2) terjadinya penurunan
produksi lateks hingga 5% (Soedarsan dan Soehendar, 1977), (3) menyulitkan
operasional kebun seperti pemupukan dan penyadapan, (4) mendorong perkembangan
penyakit akar putih (mouldy root), serta (5) resiko bahaya kebakaran
Biaya pengendalian gulma pada karet TBM adalah sebesar 83.56% dari
seluruh biaya pemeliharaan, sedang pada saat TM mencapai 46.47% (Ariyani, 2004).
Contoh biaya pengendalian gulma perhektar seperti pada Tabel 9.2.
Tabel 9.2 Biaya pengendalian gulma perhektar dibanding biaya pemeliharaan
lainnya di Perkebunan Karyadeka Alam Lestari
Kegiatan
TBM TM
Biaya (Rp) % Biaya (Rp) %
Pengendalian Gulma 107 332.28 83.56 38 825.90 46.47
Pemeliharaan Lainnya 21 110.59 16.44 44 729.42 53.53
Total 128 442.83 100.00 83 555.32 100
Keterangan : Upah tenaga kerja Rp 11 450/hari
Pengendalian Gulma di Pembibitan
Pengendalian pada areal pembibitan kurang dari 5 ha dapat dilakukan secara
manual, sedangkan jika luas areal lebih dari 5 ha memerlukan herbisida yang aman
terhadap bibit karet.
Pengendalian secara manual dilakukan dengan cara mencangkul di permukaan
tanah (mengkored) atau mencabut gulma sampai kondisi W0. Norma kerja 15 HK/ha.
Sebelum tajuk menutup rotasi penyiangan dilakukan 2 minggu sekali, sedangkan
setelah tajuk menutup rotasi dilakukan satu kali sebulan.
Pengendalian secara kimia menggunakan herbisida pre dan post emergence
dengan norma kerja 4 HK/ha. Aplikasi herbisida pre emergence (pratumbuh) dapat
Pengendalian Gulma 109
bertahan hingga 3-4 hari. Untuk pengendalian dengan herbisida post emergence
(pascatumbuh) dilakukan ketika bibit berusia 4-5 bulan dimana batang karet telah
berwarna cokelat dengan ketinggian semprot 30 cm di atas permukaan tanah.
Gambar 9.9 Skema Waktu Pengendalian Gulma dengan Herbisida Pratumbuh
Tabel 9.3 Herbisida untuk pengendalian gulma di pembibitan karet
(Mangoensoekardjo dan Kadnan, 1974)
Bahan Aktif Dosis/ha
Herbisida Pratumbuh
Diuron
Linuron
Simazine
Methoxytriazyne
1.5 kg
3.0 kg
3.0 kg
3.0 kg
Herbisida Pratumbuh
Paraquat
Paraquat + Diuron
1.0 – 1.5 l
1.0 – 1.5 l
Keterangan: Volume semprot 600 l/ha. Aplikasi koreksi dilakukan 2 minggu setelah penyemprotan
pertama.
Pengendalian gulma di areal TBM
Pengendalian gulma di TBM salah satunya dilakukan dengan penanaman
Legum Cover Crop (LCC). Benih LCC yang lazim digunakan adalah Centrosema
pubescens (Cp), Calopogonium mucunoides (Cm), dan Pueraria javanica (Pj). Fungsi
LCC adalah selain untuk mengendalikan gulma, terutama alang-alang, adalah untuk
menambahkan bahan organik pada tanah, serta sebagai pencegah erosi.
Benih Karet Semai (10 hari) Bibit Tanam
H-1
Tanah Semprot Herbisida
Pengendalian Gulma 110
A B
Keterangan: Jarak tanam karet 6 m x 4 m, (A) Jarak antar jalur 1 m, (B) jarak antar jalur 0.3 m
Gambar 9.10 Penanaman LCC di Gawangan Pertanaman Karet
Dosis benih LCC yang biasa digunakan, untuk Cp adalah 8 kg/ha, Cm 8 kg/ha,
serta Pj sebanyak 4 kg/ha. Benih tersebut ditanam dalam lubang sepanjang jalur yang
terpisah. Benih LCC dicampur dengan 15 kg RP, kemudian ditabur. Setelah benih
tumbuh, dilakukan pemupukan 30 kg urea + 15 kg SP-36 + 10 kg KCl per ha. Aplikasi
pupuk disebar disamping barisan. Pada gambar A, pembersihan LCC dapat dilakukan
secara kimia atau manual, sedangkan diantara kelompok jalur (3 jalur) dilakukan
dengan herbisida pasca tumbuh (Gambar B).
Pengendalian gulma secara manual di perkebunan karet areal TBM dilakukan
dengan menggunakan kored atau cangkul. Apabila ada aplikasi pra tumbuh maka 3-4
bulan pertama tidak ada penyiangan.
Tabel 9.4 Waktu Pengendalian Gulma Secara Manual berikut Standard Kerja dan
Rotasi
Tahun ke- Bulan ke- Standard Kerja (HK) Rotasi (Minggu)
1 1 15 2
2 10 2
3-6 6 2
7-12 4 2
2-3 1-12 3 4
1 m 1.3 1 m 1 m m 2 m
Cp Cm Pj Cm Cp Cp Pj Cm Cm Pj Cp
Pengendalian Gulma 111
Pengendalian secara kimia diawali dengan pemurnian LCC dengan
menggunakan herbisida selektif. Aplikasi dilakukan dengan menggunakan knapsack
sprayer dengan volume semprotan 600 l/ha. Norma kerja adalah 4 HK/ha.
Pengendalian gulma di jalur atau piringan karet pada TBM 1 dilakukan secara manual
dengan babat merah, sedangkan pada TBM 2 dilakukan dengan kombinasi manual
dan herbisida pascatumbuh. Untuk penyemprotan piringan atau jalur, dikenakan faktor
semprotan (spray factor) sebesar ¼. Herbisida yang umum digunakan Glifosat 0.6-
1.0 %, Paraquat 0.6 %, Paraquat+Diuron 0.4-0.6 %, Amitrole+Diuron+MCPA 0.6 %.
x
x
x
x
(a) (b)
Gambar 9.11 Teknik Aplikasi Herbisida pada (a) Piringan dan (b) Jalur Tanaman
Karet
Pengendalian Gulma pada Areal TM
Gulma yang ada pada areal TM umumnya adalah gulma tahan naungan seperti
Axonopus compressus (alang-alang), Mikania micrantha (sembung rambat),
Nephrolepis bisserata (pakis kinca), Cyclossorus aridus (pakis kadal).
Tujuan pengendalian gulma pada jalur TM, adalah (1) menjaga keseimbangan
persaingan antara tanaman dengan gulma, (2) memudahkan pengumpulan lateks, (3)
memudahkan pemupukan, dimana pupuk segera terserap oleh tanaman, serta (4)
memudahkan pengawasan.
Pengendalian gulma dilakukan dengan kombinasi cara manual dan herbisida.
Herbisida yang lazim digunakan antara lain Paraquat (kontak dan non sistemik) serta
x
x
x
x
Pengendalian Gulma 112
Glifosat (sistemik dan non selektif ). Tabel 9.5 menunjukkan beberapa herbisida yang
sering digunakan di tanaman karet yang telah menghasilkan.
Tabel 9.5 Herbisida Pasca Tumbuh pada Tanaman Karet TM
Bahan Aktif Dosis/ha
Paraquat 1.5 / 1.0 l *
Glifosat 1.5 l
Diuron + Paraquat 1.5 / 1.0 l *
Amitrole + Diuron + MCPA 2.0 / 2.0 l *
*Aplikasi ke-2 berselang 2 minggu
Rotasi penyemprotan herbisida berkolerasi negatif dengan umur tanaman karet
(Tabel 9.6). Pada tanaman TBM, rotasi sempro akan lebih sering karena tajuk tanaman
belum menutup sehingga masuknya sinar matahari akan memicu pertumbuhan gulma.
Tabel 9.6 Umur dan Rotasi Semprot
Umur Tanaman (tahun) Keadaan Tanaman Rotasi Semprot
2 s.d < 5
- Tajuk belum menutup
- TBM
3 x
5 s.d < 6
- Tajuk mulai menutup
- Mulai disadap (TM)
2 x
6 s.d < 8
- Tajuk sudah menutup
- TM
2 x
8 s.d < 20
- Tajuk sudah menutup
- TM
1 x
C. KOPI
Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ke-4 setelah Brazil,
Kolombia dan Vietnam. Ekspor kopi Indonesia tahun 2002 sebesar U$ 223 916 000,
dengan volume ekspor 325 009 ton. Pengusahaan kopi di Indonesia pada 2002 dapat
dilihat pada Tabel 9.7.
Tabel 9.7 Pengusahaan Kopi di Indonesia (Ditjenbun, 2002)
Jenis Perkebunan Luas Lahan (ha) Produksi (ton)
Perkebunan Rakyat 1 318 020 654 281
Perkebunan Besar Negara 26 954 18 128
Perkebunan Besar Swasta 27 210 9 610
Pengendalian Gulma 113
Gulma penting di kopi antara lain Imperata cylindrica, Mikania micrantha,
Chromolaena odorata, Mimosa pudica, Borreria alata, Setaria plicata, dan Ageratum
conyzoides.
Gambar 9.12 Mimosa pudica Gambar 9.13 Borreria alata
Gambar 9.14 Setaria plicata Gambar 9.15 Ageratum conyzoides
Pengendalian manual dilakukan dengan cara babat gulma di gawangan
sebanyak 12 kali/tahun dengan standard Kerja 10 HK/ha. Pengendalian gulma berkayu
yang tumbuh di sekitar tajuk tanaman dengan metode Dongkel Anak Kayu (DAK)
dengan standard kerja 5 HK/ha.
Pengendalian kimia dilakukan dengan frekuensi 1-5 kali/tahun. Herbisida yang
digunakan adalah herbisida glifosat. Untuk mengendalikan alang-alang digunakan
dosis 5 l/ha, sedangkan gulma umum 2-3 l/ha. Blanket spraying dilakukan dengan
dosis 500-600 l/ha dan spot spraying 0.4-0.6%. Jika gulma dominan adalah daun lebar
maka gunakan 2.4-D atau glifosat.
Pengendalian Gulma 114
D. TEH
Teh merupakan salah satu komoditas tanaman penyegar selain kopi dan kakao.
Lima produsen teh terbesar dunia berturut-turut adalah India, China, Srilanka, Kenya,
dan Indonesia. Luas areal dan produksi teh Indonesia cenderung stagnan, dapat dilihat
pada tabel 9.8.
Tabel 9.8 Luas Areal dan Produksi Teh Kering Indonesia Tahun 2000 - 2002
Tahun
Luas Areal
(ha)
Produksi
(ton)
Produktivitas
(kg/ha)
2000 153 675 162 587 1 420.09
2001 150 872 166 867 1 523.94
2002 150 707 165 194 1469.50
Sumber : Deptan (2004)
Kerugian akibat gulma pada tanaman teh, adalah (1) menghambat laju
pertumbuhan tanaman teh muda, periode TBM lebih lama hingga dua tahun lebih
(Sanusi, 1986), (2) menurunkan produksi pucuk hingga 40 % (BPTK, 1997), (3)
meningkatkan biaya pengendalian hama dan penyakit misalnya Commmelina
benghalensis inang bagi helopeltis, (4) menurunkan kapasitas kerja pemetikan dan
pemeliharaan rutin lainnya, serta (5) menurunkan kualitas pucuk. Masalah gulma di
perkebunan teh muncul saat TBM 1 sampai TBM 3, dan setelah dilakukan
pemangkasan.
Tabel 9.9 menunjukkan beberapa spesies gulma penting di perkebunan teh.
Gulma yang perlu mendapat perhatian serius antara lain adalah Commelina
benghalensis, karena selain pertumbuhannya cepat dan tahan naungan, gulma tersebut
juga relatif toleran terhadap herbisida.
Tabel 9.9 Beberapa Gulma Penting pada Perkebunan Teh
No. Kelompok Jenis Gulma
1 Gulma Berkayu Stachytarpheta indica
Melastoma malabatrichum (harendong)
Clidemia hirta (harendong betina)
2 Gulma Merayap Commelina benghalensis (tali said)
Mikania micrantha (sambung rambat)
3 Gulma Tahan Naungan Drymaria cordata
Centella asiatica
Setaria plicata
4 Gulma lain Imperata cylindrica
Pengendalian Gulma 115
Paspalum conjugatum
Teknik pengendalian gulma di perkebunan teh diarahkan pada selective weeding.
Prinsip pengendalian secara kultur teknis antara lain mempercepat pertumbuhan tajuk
agar saling menutupi, mempertahankan populasi yang optimal, serta pembentukan
lapisan kanopi yang subur sehingga memiliki lapisan daun dan pemeliharaan yang
tebal.
Beberapa contoh pengendalian kultur teknis adalah dengan mengatur jarak
tanam optimum 120 cm x 60 cm, sistem dan gilir petik yang tepat untuk mendapatkan
bidang petik yang rata, dan dengan menggunakan mulsa dari hasil pangkasan.
Pengendalian manual diantaranya dilakukan dengan babat dempes yaitu dengan
membabat gulma pada ketinggian tertentu, serta dengan mencabut gulma dengan
tangan atau dikenal dengan istilah jojo. Pengendalian manual diterapkan pada gulma
yang relatif toleran terhadap herbisida misalnya Commelina difussa, Diodia
sarmentosa, dan Clidemia hirta dengan standard kerja 20 HK/ha. Pengendalian gulma
berkayu seperti Melastoma malabatrichum dan Stachytarpheta indica dilakukan
dengan metode Dongkel Anak Kayu (DAK) dengan standard kerja 10 HK/ha.
Gambar 9.16 Diodia sarmentosa
Gambar 9.17 Clidemia hirta
Pengendalian Gulma 116
Gambar 9.18 Melastoma malabatrichum
Gambar 9.19 Stachytarpheta indica
Pengendalian kimia dilakukan menggunakan aplikator dengan volume semprot
400-600 l/ha dengan mempertimbangkan terlebih dahulu faktor cuaca. Untuk
mengendalikan Imperata cylindrica digunakan herbisida glifosat 5 l/ha, sedangkan
gulma lainnya dengan glifosat 2-3 l/ha, paraquat 2-3 l/ha, serta kombinasi antara
glifosat 1.5 l dan 2.4 D 0.5 l.
Pengendalian gulma secara clean weeding memberikan pengaruh berupa
penekanan persaingan gulma, namun menimbulkan bahaya erosi. Pengendalian secara
selective weeding dilakukan dengan cara membiarkan ”gulma lunak” sampai
penutupan tertentu hingga kurang lebih 25%.
Tabel 9.10 Pengaruh Cara Pengendalian Gulma terhadap Aliran Air Permukaan
(runnoff) dan Erosi (Othieno, 1973).
Perlakuan
Aliran air permukaaan
% dari total jumlah hujan
Jumlah tanah yang tererosi
(ton/ha/tahun)
Penyiangan manual 5.18 38.87
Penyiangan 7.91 12.13
Tanaman sela gandum 3.95 4.31
Mulsa rumput eragrotis 1.48 0.12
Pengendalian Gulma 117
D. TEBU
Indonesia pernah mengalami masa keemasan produksi gula pada tahun 1920-
1930. Pada masa itu Indonesia mampu memproduksi 3 juta ton/tahun dan mampu
mengekspor gula sebanyak 2.6 juta ton/tahun. Namun kini Indonesia justru menjadi
salah satu negara pengimpor gula di dunia. Data produksi, konsumsi, dan impor gula
industri pada 1997-2003 ditunjukkan pada tabel 9.11
Tabel 9.11 Data Produksi, Konsumsi, dan Impor Gula Industri 1997-2003
Tahun Produksi
(Juta ton)
Konsumsi
(Juta ton)
Impor
(Juta ton)
1997 2.19 3.40 1.36
1998 1.49 3.38 1.81
1999 1.50 3.48 2.19
2000 1.69 3.55 1.56
2001 1.71 3.59 1.28
2002 1.75 3.63 1.60
2003 1.65 3.30 1.54
Sumber : Warta Ekonomi, 2004
Ciri umum pengelolaan tebu antara lain dengan penggunaan alat mekanis,
pemakaian pestisida (terutama herbisida), dan sistem keprasan (rotooring system).
Keberadaan gulma di pertanaman tebu menjadikan spesies-spesies gulma tersebut
mantap berasosiasi dengan tebu setelah ditanami beberapa musim (3 musim atau
lebih).
Kerugian akibat gulma terhadap penurunan bobot tebu di lahan sawah pola
reynoso sebanyak 18.1-53.7 %, sedangkan dengan pola mekanis 22.4 %. Kerugian
akibat gulma di lahan tegalan dengan tanaman yang baru ditanam sekitar 3.7 – 45.7 %.
Gulma Teki (C. Rotundus) pada pola reynoso mampu menurunkan bobot tebu 30.4 –
34.6 %, sedangkan pada pola mekanis lahan sawah, hanya menurunkan 1.2 – 6.6 %.
Tabel 9.12 Jenis-Jenis Gulma di Kebun Tebu di Jawa
Lahan Sawah Lahan Tegalan
Reynoso* Mekanisasi Tanaman baru Keprasan
Polystris amaura Cyperus rotundus Momordica
charantia
Momordica
charantia
Cynodon dactylon Euphorbia sp. Digitaria spp. Digitaria spp.
Echinochloa Portulaca oleraceae Cyperus rotundus Panicum spp.
Pengendalian Gulma 118
colonum
Cyperus rotundus Echinochloa
colonum
Axonopus spinosus
Keterangan : *) merupakan cara bercocok tanam tebu secara tradisional di Jawa
Pengendalian gulma secara manual banyak diterapkan pada tebu rakyat di lahan
sawah di Jawa, alat yang digunakan adalah arit kecil, pacul atau kored. Pengendalian
pada pertanaman tebu baru, butuh 4-6 kali penyiangan per musim dengan norma 75
HK-180 HK. Pada tanaman keprasan, penyiangan dilakukan sebanyak 2-3 kali/musim
dengan norma 40-90 HK, dan dilakukan pada 3, 6, 9 dan 12 MST.
Pengendalian secara mekanis diterapkan pada lahan tegalan dengan
menggunakan traktor yang menarik alat penyiang mekanis seperti weeder rake, multi
weeder, dan spiner weeder. Penyiangan pertama pada 3-4 MST, penyiangan kedua
dilakukan ketika gulma agak lebat, dan penyiangan ketiga dilakukan hanya bila
diperlukan saja.
Pengendalian secara kimiawi merupakan cara yang semakin meluas dan sering
dipakai. Pada sawah berpengairan dapat dilakukan aplikasi dengan campuran
ametryne 1.3 kg/ha dan 2.4 D amina 1.0 kg/ha segera setelah penanaman. Di daerah
yang banyak terinfasi gulma daun lebar diaplikasikan dengan campuran atrazine 1.5
kg/ha dan 2.4 D amina 1.0 kg/ha. Aplikasi pertama dilakukan segera setelah tanam,
sedangkan aplikasi kedua pada 4-6 minggu setelah aplikasi pertama.
Tabel 9.13 Gulma, Daerah Tegalan, Jenis-Jenis Herbisida yang di Rekomendasikan
Dominasi gulma Daerah kering Daerah basah
Daun lebar Atrazine + 2,4 D Atrazine +2,4 D
Ametrine + 2,4 D
Tebuthiuron + 2,4 D
Daun sempit Paracol + 2,4 D Paracol + 2,4 D
Diuron + 2,4 D
Campuran (Atrazine + Asulam) (Atrazine + Asulam)
Keterangan:
Basah : musim kemarau kurang dari 4 bulan
Kering : musim kemarau lebih dari 4 bulan




Gulma Tanaman Hortikultura dan Strategi Pengendaliannya
A. Kerugian Akibat Gulma
Hortikultura adalah komoditas pertanian yang bernilai lebih atau berkarakter
”fancy” (berkenyamanan lebih), penyumbang zat gizi utama dan vitamin mineral
pada menu manusia, berumur setahun atau tahunan. Keberadaan gulma pada
pertanaman hortikultura dapat menjadi lebih penting dan perlu lebih diperhatikan
karena sifat tersebut. Persaingan sarana tumbuh yang ditimbulkan antara gulma
dan tanaman akan terasa lebih besar pada tanaman hortikultura.
Penggunaan pupuk organik/pupuk kandang yang relatif lebih banyak
khusunya pada hortikultura setahun berpotensi menyebarkan gulma (sumber
investasi) apabila pupuk kandang tersebut tidak diolah secara matang. Bahan
tersebut dapat menjadi media penyebaran alat perbanyakan gulma, baik melalui
organ vegetatif maupun organ generatif. Irigasi dan penggunaan pupuk yang
relatif lebih intensif pada pertanaman hortikultura dapat mendorong
perkembangan gulma.
B. Jenis-Jenis Gulma
Sejumlah gulma tertentu berasosiasi atau sering tumbuh bersama dengan
tanaman hortikultura tertentu. Dalam komunikasi sehari-hari gulma yang selalu
terdapat dan tumbuh pada pertanaman hortikultura disebut gulma hortikultura,
walaupun keberadaan suatu spesies gulma tertentu tidak selalu mutlak pada
tanaman hortikultura. Berikut disampaikan keberadaan sejumlah spesies gulma
pada beberapa tanaman hortikultura semusim dan tahunan. Ketiga golongan
gulma, yaitu gulma golongan rumput, teki dan daun lebar terdapat pada tanaman
hortikultura.
Gulma golongan teki seperti (Cyperus rotundus ), gulma golongan berdaun
lebar lunak dan gulma golongan rumput umumnya terdapat pada pertanaman
hortikultura berumur setahun (tanaman sayuran, tanaman hias).
Gulma golongan berdaun lebar (lunak dan berkayu), gulma golongan
rumput dan gulma golongan teki terdapat pada pertanaman hortikultura berumur
tahunan (tanaman buah-buahan).
Pengendalian Gulma 115
Tabel 10.1 Jenis-jenis gulma pada pertanaman hortikultura
Tanaman Gulma
Rumput/Teki Daun Lebar
Bawang Merah Echinochloa colonum,
Digitaria spp., Eleusine
indica, Cyperus rotundus
Ageratum conyzoides,
Alternanthera sessilis,
Amaranthus spp.,
Amaranthus spinosus,
Cleome rutidospermae,
Portulaca oleraceae
Pisang Setaria plicata, Panicum
repens, Eleusine indica,
Ottochloa nodosa,
Paspalum conjugatum,
Cyperus spp.
Ageratum conyzoides,
Borreria alata, Cleome
rutidospermae, Mimosa
invisa
Nenas Axonopus compressus,
Cynodon dactylon,
Panicum repens, Eleusine
indica, Digitaria spp.,
Brachiaria eruciformis,
Brachiaria mutica,
Cyperus spp.
Richardia brasiliensis,
Borreria alata,
Elephantropus scaber,
Amaranthus spinosus,
Chromolena odorata,
Cleome rutidospermae,
Commellina diffusa,
Euphorbia spp.,
Jambu Mete Paspalum conjugatum
Gambar 10.2 Echinochloa colonum Gambar 10.3 Digitaria spp.
Pengendalian Gulma 116
Gambar 10.4 Eleusine indica Gambar 10.5 Cyperus rotundus
Gambar 10.6 Setaria plicata Gambar 10.7 Panicum repens
Gambar 10.8 Ottochloa nodosa Gambar 10.9 Paspalum conjugatum
Pengendalian Gulma 117
Gambar 10.10 Ageratum conyzoides
Teknik Pengendalian
Pengendalian gulma pada tanaman hortikultura dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Pengendalian gulma secara manual/mekanis paling sering dan
praktis diterapkan karena lahan yang relatif sempit namun dengan intensitas
pekerjaan yang intensif. Pengolahan lahan yang relatif intensif khususnya pada
hortikultura setahun dapat menghilangkan keberadaan spesies gulma setelah
beberapa kali pengolahan lahan untuk penanaman. Namun pengolahan lahan yang
intensif dapat pula meningkatkan kehadiran gulma golongan teki.
Tindakan-tindakan budidaya tanaman hortikultura secara langsung maupun
tidak langsung turut mengendalikan gulma pada pertanaman hortikultura,
misalnya pembentukan media tanam, pengaturan jarak tanam, pemupukan,
pengairan dan lain-lain.
Pengendalian gulma secara manual/mekanis dapat dilakukan dengan
mencabut atau membabat. Jika gulma yang dihadapi tergolong gulma lunak
(semusim dan berakar dangkal) maka tindakan mencabut dengan tangan atau
dengan bantuan alat sederhana dapat dilakukan. Penyiangan dengan mencabut
misalnya dilakukan terhadap gulma Ageratum conyzoides (babadotan), Cleome
rutidosperma (cacabean) dan lain-lain.
Pada budidaya buah-buahan yang dilakukan di lahan kering tindakan
membabat tetap merupakan cara yang paling mudah dan praktis. Ketinggian
membabat dapat dipertimbangkan sesuai kemampuan dan keadaan. Misalnya
dapat dilakukan babat tinggi atau babat rendah. Babat tinggi dengan cara
mempertahankan ketinggian gulma 20 – 30 cm. Dalam pengertian babat rendah,
selain dilakukan dekat/pada permukaan tanah, juga dalam arti mengupas dangkal
(babat bersih/babat merah) sebagian permukaan tanah. Alat-alat yang sering
digunakan adalah cangkul, kored, parang dan semi mekanis (mower) dan lain-lain.
Waktu pembabatan disesuaikan dengan umur tanaman. Pada saat tanaman
masih berumur muda, ruang antar tanaman masih terbuka sehingga
memungkinkan gulma tumbuh dan berkembang, sehingga diperlukan
pengendalian gulma lebih sering dibandingkan pada saat tanaman lebih tua ketika
Pengendalian Gulma 118
tajuk tanaman semakin membesar dan melebar. Pada saat pemeliharaan tanaman,
penyiangan 1 – 1.5 bulan satu kali dapat dilakukan.
Dalam keadaan tertentu (gulma tahunan berkayu dengan perakaran dalam
dan kokoh), kadang-kadang diperlukan pembongkaran tunggul/rimpang gulma.
Alat-alat yang digunakan adalah garpu, cangkul, parang. Misalnya gulma
Melastoma malabthricum (harendong), Choromolaena odorata (kirinyuh),
Clibadium surinamense, Themeda gigantea (glagah), Imperata cylindrica (alangalang)
dan Sida rhombifolia (sidagori). Sejumlah gulma dengan tipe pertumbuhan
menjalar harus ditarik (dijojo), misalnya gulma Mikania micrantha (areuy
kapituheur), Commelina nudiflora (gewor) dan Richardia brasiliensis (goletrak
beuti).
Gulma yang telah dicabut, dibabat atau ditarik kemudian dikumpulkan pada
suatu tempat, dijadikan serasah/mulsa atau dapat dibakar. Pelaksanaan
pembakaran hendaknya cukup aman terhadap tanaman, lingkungan sekitar dan
terawasi.
Pengendalian gulma dengan pembakaran dapat memusnahkan gulma, tetapi
biji dan organ pembiak vegetatif di dalam tanah tidak mati. Pemakaian
mulsa/serasah dapat menekan pertumbuhan gulma. Serasah dapat berasal dari
gulma yang telah mati, bagian-bagian tanaman atau tumbuhan serasah yg sengaja
ditanam (penutup tanah). Selain serasah organik dapat juga plasik penutup abuabu
hitam, namun mungkin bahan ini cukup mahal. Namun demikian pemakaian
plastik sering digunakan pada hortikultura semusim. Tindakan ini menghambat
perkembangan gulma, kecuali pada bar.isan lubang tanam.
Pembuatan piringan tanaman dapat dilakukan dibawah tajuk tanaman
bersamaan untuk kepentingan pemupukan. Untuk selanjutnya dalam kegiatan
pemeliharaan tanaman bagian piringan ini dapat disiang dengan lebih baik dan
lebih sering daripada bagian gawangan. Misalnya : bagian piringan dengan babat
rendah atau babat bersih, sedangkan bagian gawangan dengan babat tinggi.
Pengendalian dengan cara lain adalah menggunakan bahan kimia. Sejumlah
bahan telah diketahui efektif untuk mengendalikan gulma termasuk gulma yang
cukup sukar dikendalikan secara manual/mekanis (alang-alang). Namun
pengetahuan teknis, keamanan dan pertimbangan ekonomi perlu dilakukan.
Pengendalian secara khemis juga dapat dilakukan dengan memperhatikan waktu
aplikasi pengendalian, sebelum atau sesudah gulma muncul di pertanaman
hortikultura (pra/pasca tumbuh). Herbisida pra tumbuh dapat digunakan pada
pertanaman hortikultura yang berumur setahun. Misalnya : pengendalian gulma
dengan herbisida pra tumbuh pada tanaman kentang, bawang merah dan cabai.
Herbisida pasca tumbuh dapat digunakan pada pertanaman hortikultura tahunan,
selain herbisida pra tumbuh.
Pada pengendalian gulma hortikultura secara khemis digunakan beberapa
jenis herbisida pra maupun pasca tumbuh. Untuk pertanaman hortikultura
semusim biasanya digunakan herbisida pra tumbuh, sementara pada pertanaman
hortikultura tahunan dapat digunakan herbisida pra dan pasca tumbuh.
Penggunaan herbisida pra tumbuh dimaksudkan untuk membersihkan media
tumbuh dari gulma sambil mendorong pertumbuhan tanaman karena tanpa
kehadiran tumbuhan lain yang dapat berkompetisi. Herbisida pasca tumbuh lebih
Pengendalian Gulma 119
sesuai pada pertanaman hortikultura tahunan karena tingkat selektivitas yang lebih
baik terhadap herbisida.
Tabel 10.2 Jenis Pengendalian
Hortikultura Pengendalian Khemis
Bawang merah oksifluorfen, flufenacet
Pisang ametrin, paraquat
Nenas ametrin, diuron
Jambu mente glifosat
Pengendalian secara khemis dengan menggunakan herbisida berikut yang
digunakan pada tanaman hortikultura ada yang bersifat kontak maupun sistemik.
Waktu pemakaian dilakukan secara pra tumbuh atau pasca tumbuh. Dosis
pemberian herbisida dan kepekatan larutann yang diberikan harus memperhatikan
ketentuan dna keterangan pada kemasan herbisida termasuk aspek keamanannya
bagi penyemprot dan lingkungan.
Table 10.3 Bahan Aktif Herbisida dan Sifat Utama
Herbisida Ciri
oksifluorfen kontak selektif pra tumbuh, kontak purna tumbuh
oksifluorfen kontak selektif pra tumbuh, kontak purna tumbuh
ametrin selektif sistemik pra tumbuh
flufenacet sistemik pra tumbuh
paraquat kontak purna tumbuh
diuron sistemik pra tumbuh
Tindakan pengendalian secara terpadu yang merupakan gabungan atau
kombinasi dari tindakan-tindakan pengendalian diatas (manual dan khemis) juga
dilaksanakan dalam pengendalian gulma hortikultura.
Pengendalian gulma pada pertanaman hortikultura dilakukan di larikan pada
pertanaman hortikultura setahun. Pada pertanaman hortikultura tahunan,
pengendalian gulma dapat dilakukan di larikan/gawangan dan piringan/bokoran.
Tabel 10.4 Rekomendasi Pengendalian Gulma pada Beberapa Komoditas
Hortikultura Pengendalian
Bawang merah manual/mekanis, budidaya, pra, terpadu
Pisang manual/mekanis, budidaya, pra/pasca, terpadu
Nenas manual/mekanis, budidaya, pra, terpadu
Jambu mente manual/mekanis, budidaya, pasca, terpadu







Gulma Tanaman Pangan dan Strategi Pengendaliannya
A. Pengendalian Gulma pada Padi Sawah
Jenis gulma yang umumnya tumbuh pada ekosistem padi sawah, adalah
gulma yang tahan genangan. Terdapat 33 jenis gulma yang sering dijumpai
tumbuh di pertanaman padi sawah dengan perincian 10 jenis dari golongan
rumput, 7 jenis golongan teki dan 16 jenis golongan daun lebar. Namun demikian
beberapa gulma dominan yang perlu diketahui dari tiap golongan adalah sebagai
berikut.
Berdasarkan kedalaman airnya, sifat pertumbuhan gulma dikenal dua tipe,
yaitu gulma lahan sawah perawakan tegak dan gulma yang tumbuh menjalar.
Salah satu gulma yang tumbuh menjalar ialah Salvinia molesta. Akibat adanya
gulma ini menyebabkan oksigen yang terlarut dalam sawah rendah, intensitas
cahaya rendah, bisa terjadi eutrofikasi (adanya daun-daun tua) yang menyebabkan
kadar CO2 yang terlarut tinggi
Keadaan tumbuh gulma yang lebat dapat juga dimanfaatkan untuk dapat
menekan gulma yang ada di permukaan tanah. Biji-biji gulma yang ada pada
permukaan tanah kekurangan O2 dan kelebihan CO2 sehingga biji gulma tidak
dapat berkecambah. Hal ini disebabkan karena biji gulma di permukaan tanah
terendam oleh air sehingga biji gulma tersebut tidak dapat tumbuh, selain itu Sifat
gulma yang dapat menekan pertumbuhan gulma lainnya adalah cepat dan
lambatnya gulma tumbuh di permukaan air. Walaupun berkecambah tidak dapat
menembus (tetap terendam) di bawah permukaan tanah sehingga tidak dapat
menekan pertumbuhan gulma di permukaan tanah. Misalnya Salvinia molesta,
Azolla pinnata (mengandung 5 % kadar bahan kering gulma). Salvinia molesta
mempunyai daya saing yang rendah terhadap tanaman padi.
Gulma golongan teki yang terdapat di pertanaman padi sawah antara lain
Cyperus difformia, Cyperus kyllingia, Scirpus formicoides, Fimbristylis littoralis
Pengendalian Gulma 120
gulma tersebut tidak terlalu menimbulkan gangguan ekonomis, sehingga masih
dapat ditolelir.
(a) (b)
Gambar 11.1 Cyperus difformis (a), bunga Cyperus difformis (b)
Gambar 11.2 C. kyllingia
Keuntungan memanfaatkan Salvinia molesta dalam mengendalikan gulma
yang lain ialah Salvinia molesta hanya memanfaatkan zat hara yang terdapat di
dalam air sehingga tanaman padi tidak terganggu oleh adanya kompetisi hara.
Selain keuntungan, terhapat juga kerugian menggunakan Salvinia molesta sebagai
pengendali untuk gulma lain ialah tidak bisa digunakan untuk Tabela,
mengambang di permukaan air.
Pengendalian Gulma 121
Tabel 11.1 Nama dan Golongan Gulma Dominan di Areal Persawahan
Golongan Rumput Golongan Teki Golongan Daun Lebar
Paspalum distichum Cyperus difformis Monochoria vaginalis
Echinochloa crussgalli Cyperus iria Marsilea crenata
Leersia hexandra Scirpus juncoides Limnocharis flava
Leptochloa chinensis Fimbristyllis littoralis Spenochlea zeylanica
Paspalum distichum
Gulma yang biasa terdapat di padi lahan sawah basah dan kering, termasuk
kedalam golongan rumput, perkembangbiakan vegetatifnya dengan menggunakan
akar stolon, dan gulma ini termasuk gulma yang menjalar. Pembajakan yang
tanggung menyebabkan populasinya semakin menyebar, hal tersebut dikarenakan
ketika dilakukan pembajakan alat perkembangbiakan vegetatifnya (stolon)
terputus dan terbawa. Sehingga menyebabkan gulma tersebut menyebar ke tempat
lain.
Paspalum distichum
(a) (b)
Gambar 11.3 Paspalum distichum(a), bunga Paspalum distichum (b)
Echinochloa colonum
Merupakan gulma yang biasa ditemui di lahan sawah basah dan kering.
Gulma ini termasuk kedalam golongan rumput, merupakan gulma semusim,
perkembangbiakannya secara generatif yaitu dengan menggunakan biji. Gulma ini
masih satu marga dengan Echinochloa crusgalli (Jajagoan).
Pengendalian Gulma 122
Echinochloa colonum
Gambar 11.4 Echinochloa colonum
Alternanthera philoxeroides
Gulma ini merupakan gulma yang biasa ditemui pada padi lahan sawah
basah dan kering. Alternanthera philoxeroides merupakan gulma dari golongan
daun lebar, dan perawakannya menjalar. Perkembangbiakan gulma ini secara
generatif, dan merupakan gulma tahunan. Gulma ini di Indonesia banyak tersebar,
tetapi di Malaysia tidak. Sehingga Alternanthera philoxeroides merupakan gulma
karantina.
Gambar 11.5 Alternanthera philoxeroides
Cyperus iria
Gulma ini merupakan gulma yang biasa ditemui pada padi lahan sawah
basah dan kering. Gulma ini merupakan gulma dari golongan teki, perawakannya
tegak, merupakan gulma semusim, dan perkembangbiakan gulma ini dominan
secara generatif. Daya saing Cyperus iria tidak terlalu kuat.
Pengendalian Gulma 123
Cyperus iria
Gambar 11.6 C. Iria
B. Pengendalian Gulma di Lahan Kering
Gulma lahan kering tidak tahan dengan penggenangan. Gulma daun lebar
mempunyai keistimewaan dalam penggenangan karena dalam kondisi tertentu
masih bisa menampung intersepsi cahaya, misalnya Ischaemum timorense,
Axonopus compressus yang merupakan gulma lahan kering.
Gambar 11.7 Axonopus compressus
Gulma yang sering terdapat pada lahan kering ialah Eleusine indica gulma
tersebut sangat kuat mencengkeram tanah dengan akarnya, selain itu juga di lahan
kering terdapat Cynodon dactylon, Digitaris ciliaris, dan gulma teki lahan kering.
Pengendalian Gulma 124
Cynodon dactylon berkembangbiak secara vegetatif dan generatif. Sedangkan
Digitaris ciliaris perkembangbiakan generatif lebih dominan dibandingkan
perkembangbiakan vegetatifnya.
Gambar 11.8 Eleusine indica Gambar 11.9 Cynodon dactylon
Gambar 11.10 Digitaria ciliaris
Gulma teki yang terdapat di lahan kering diantaranya ialah Cyperus
rotundus. Gulma ini berkembang biak secara vegetatif dengan umbi,
perkembangbiakan generatif kecil sekali karena biji gulma ini sangat sulit sekali
untuk berkecambah. Cyperus rotundus semakin lama semakin banyak, hal ini
dikarenakan jika umbi terpotong maka potongan umbi akan tumbuh menjadi
individu baru.
Pengendalian Gulma 125
C. Metode Pengendalian Gulma Tanaman Pangan
Pengendalian Langsung
1. Manual
Pengendalian dilakukan dari tanam sampai < umur tanaman (± 40 hari)
dengan cara mencabut lalu membenamkan pada air (padi sawah), sedangkan
untuk penyiangan dilakukan pada umur 21 hari s.d 42 hari setelah tanam.
2. Mekanis
Pengendalian dilakukan pada lahan luas dan datar misalnya di perkebunan
besar. Pengendalian secara mekanis Misalnya pengendalian dengan
menggunakan traktor.
3. Fisik
Pengendalian biasanya dilakukan dengan menggunakan api (dibakar), tetapi
metode ini sangat jarang dilakukan.
4. Biologis
Pengendalian dilakukan dengan menggunakan serangga dan hewan lainnya.
Misalnya pada padi sawah digunakan anak itik.
5. Kimiawi
Pengendalian dilakukan dengan menggunakan herbisida. Penggunaan
herbisida Pre emergence diaplikasikan pada 0-7 hari setelah tanam,
sedangkan aplikasi herbisida Post emergence diaplikasikan pada 7-21 hari
setelah tanam.
Pengendalian Tidak Langsung
Pengendalian gulma secara tidak langsung ialah dengan membuat undangundang
karantina hal ini dimaksudkan agar gulma dari luar tidak masuk ke dalam
suatu daerah, selain itu juga dengan menggunakan varietas unggul, pemupukan
yang berimbang, dan menggunakan bahan tanam atau alat-alat pertanian yang
bebas dari biji gulma.






Gulma Perairan dan Strategi Pengendaliannya
Air merupakan kebutuhan yang paling vital. Air memiliki kegunaan dalam
fungsi konsumsi (minum, masak), irigasi, perikanan, pembangkit listrik,
pelayaran, rekreasi dan lain-lain. Air sangat peka terhadap pencemaran.
Keberadaan gulma di lingkungan perairan semakin lama akan
menyebabkan adanya ledakan populasi gulma air tersebut. Hal ini dimungkinkan
karena daya berkembang gulma air yang sangat cepat, apabila hal tersebut tidak
segera mendapatkan dan maka gulma air tesebut dapat menimbulkan gangguan.
Gulma
Lingkungan Perairan
Ledakan Populasi
Gangguan
Gambar 12.1 Mekanisme invasi gulma di Perairan
A. Dampak negatif yang disebabkan oleh keberadaan gulma air antara lain:
1. Peningkatan kehilangan air.
Kehilangan air akan lebih cepat meningkat karena adanya peristiwa
evapotranspirasi dari gulma air tersebut.
Contoh :
- Eceng gondok 2-8 : 1
- Salvinia molesta 2 : 1
2. Penurunan kapasitas waduk atau danau.
Di Rawa Pening, okupasi eceng gondok 10 % (250 ha) menurunkan
kapasitas maksimal penyimpanan air sebanyak 0.5 – 2 % dari kapasitas
maksimal 400 juta m3.
3. Halangan aliran air
Keberadaan gulma air juga dapat menurunkan debit air dari suatu kanal
atau irigasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh kerapatan dan volume gulma air.
Penurunan debit berkisar antara 10 – 90 % (Guscio et. al. 1965).
Contoh:
a. 30 % saluran dan parit di bagian barat Amerika diinvasi oleh pertumbuhan
gulma air (Temmons dalam Mitchell, 1974).
Pengendalian Gulma 125
b. Di irigasi Riam Kanan, perlu pengeringan dan pembersihan karena invasi
Hydrilla verticilata.
4. Interferensi dengan pelayaran
Adanya gulma air yang mengapung di jalur pelayaran dapat menghambat
mobilitas kapal-kapal untuk melakukan pelayaran. Kerugian yang disebabkan
adanya gulma air yang menghalangi jalur pelayaran, antara lain ialah :
a. Gulma air yang terbenam mengotori dan menggangu baling-baling kapal
motor.
b. Akibat adanya pemblokiran eceng gondok di Sungai Nil, mobilitas kapal
terhambat 1-10 hari. Kerugian yang diderita oleh Pemerintah Sudan pada
tahun 70’an sebesar $ 1.5 juta /tahun.
c. Holm et.al. (1969) melaporkan sebuah motel seharga U$ 900 000 yang
dibangun di tepi sungai terpaksa bangkrut hanya dalam waktu 18 bulan
karena invasi Hydrilla verticilata yang menghambat jalan air.
5. Ancaman bagi pertanian dan kesehatan
Invasi eceng gondok yang terjadi di rawa pening meningkatkan serangan
tikus (Rattus argentiventer). Tikus tersebut, selain menyerang tanaman padi
juga membawa bibit penyakit Leptospirosis. Nyamuk Anopheles, Culex dan
Mansonia yang menjadi vector malaria dan filariasis akan menjadikan gulma
air sebagai inang.
6. Pengaruh terhadap perikanan
Gulma yang terapung seperti Lemna, Pistia, Salvinia dan Eichornia akan
menurunkan kadar 02 dalam air dan mengurangi penetrasi sinar matahari,
akibatnya fitoplankton terhambat pertumbuhannya sehingga populasi ikan
menjadi terhambat.
Contoh : Di Rawa Pening pada tahun 1931 terjadi penurunan produksi ikan
dari 124 kg/ha menjadi hanya 3.5 kg/ha karena permukaan danau tertutup
eceng gondok.
B. Dampak Positif
Selain negatif yang disebabkan oleh adanya gulma air, terdapat dampak positif
dari gulma air, diantaranya ialah:
1. Sebagai produsen primer
Sumber pangan bagi biofag-biofag air (biofag = pemakan makhluk hidup),
hal tersebut menyebabkan keseimbangan ekologi perairan tetap terjaga.
2. Siklus zat makanan dan pemurnian air
kehadiran eceng gondok dapat bermanfaat untuk menurunkan dan
memurnikan air dari pencemaran logam berat (Pb, Hg), metal-metal
karsinogenik (Ni, Cd), pencemar organik (turunan fenol),dan limbah pertanian
dan rumah tangga (pestisida, pupuk N dan P).
Gulma Scirpus lacustricus, efektif untuk menyerap bakteri dan jasad-jasad
renik yang lain serta sisa bahan organik di air sehingga dapat memurnikan air
(Zafer, 1973).
Pengendalian Gulma 126
Peningkatan populasi gulma air erat hubungannya dengan :
1. Kepadatan populasi gulma air sangat penting dalam menentukan peranan
vegetasi ini dalam ekosistem.
2. Satu individu eceng gondok dapat berlipat ganda dalam waktu 10 hari
(Widyanto, 1975). Secara teoritis, seluruh permukaan air di bumi ini akan
ditutupi eceng gondok dalam waktu 1 tahun 8 bulan. Tapi faktanya hal ini
tidak pernah terjadi.
Pt
Pt = Po x e Gt
t
Gambar 12.2 Hubungan antara Kepadatan Populasi sebagai Faktor Tingkat
Pertumbuhan dan Waktu
Tahap Pertumbuhan Relatif (G)
G = _n Pt - _n Po
t-o
dan Populasi pada saat t : Pt = Po x e Gt
dengan Po = Populasi pada saat awal
Pt = Populasi pada waktu t
Pengendalian Gulma 127
Jenis-jenis Gulma Air yang Penting
Pada lokakarya se-Asia Tenggara tentang gulma-gulma air di Malang (1974),
telah diidentifikasi 10 gulma air yang menimbulkan masalah serius di Asia
Tenggara.
Tabel 12.1 Spesies Gulma Air di Asia Tenggara Berdasarkan Penyebaran dan
Gangguan yang Ditimbulkan
No. Nama umum Nama ilmiah
1. Eceng gondok Eichornia crassipes (Mart) Solae
2. salvinia Salvinia molesta D.S. Mitchell
3. Selada air Pistia stratiotes L.
4. Hydrilla Hydrilla verticillata (L.F) Royle
5. Teratai Nelumbo nucifera Gaerth
6. Bulrush raksasa Scirpus grassus L.
7. Lempuyangan Panicum repens L.
8. Narrow leaf cattail Typha augustifolia L.
9. monochoria Monochoria vaginalis (Burm. T)
10. Cucullate salvinia Salvinia cucullata Roxb. ex Bory
Sifat Tumbuh Gulma Air
Terdapat tiga sifat tumbuh dari gulma air, antara lain:
a. Sub merged : Hydrilla
b. Merged : Panicum repens, Scirpus spp.
c. Floating : Eichornia crassipes, Salvinia molesta
c
a
a
Gambar 12.3 Sifat Tumbuh Gulma Air
Pengendalian Gulma 128
Pengelolaan Gulma Air
Pengelolaan gulma air dapat dibagi menjadi tiga metode, yaitu:
A. Memanfaatan gulma air menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai
ekonomis bagi masyarakat, semisal:
• Pembuatan kompos dari eceng gondok.
• Pembuatan bahan kerajinan rumah tangga dengan menggunakan serat
yang berasal dari batang eceng gondok.
• Menjadikan gulma air tersebut sebagai bahan baku kertas atau tekstil.
• Pembuatan pakan ternak.
B. Metode pengendalian jangka pendek
a. Metode Fisik
Metode ini dilakukan dengan menggunakan tangan ataupun dengan
bantuan alat mekanis, seperti pengangkatan gulma air di waduk dengan
eksavator, dan pemotongan pulau-pulau terapung di Rawa Pening. Hasil
potongan tersebut kemudian diangkat ke darat.
b. Metode Kimia
Penggunaan herbisida sering kali menimbulkan tantangan sehingga perlu
untuk dilakukan penelitian yang mendalam mengenai toksokologi atau
tingkat racunnya, residu dari herbisida tersebut dan degradasi lingkungan
yang disebabkan oleh penggunaan herbisida, yang kesemuanya dapat
mempengaruhi ekosistem di perairan tersebut.
Tabel 12.2 Beberapa Herbisida Yang Dapat Digunakan Untuk
Pengendalian Gulma Air
No. Nama Herbisida Dosis kg/ha atau ppm Target
1. Ametryn 0.5 -1.0 kg/ha Eceng gondok,
Salvinia
2. Bromacil 20 - 40 kg/ha Panikum repens,
dll
3. Dalapon 5 – 10 kg/ha Panikum repens,
dll
4. Diquat 0.5 – 2 kg/ha Eceng Gondok,
Salvinia, Hydrilla
5. Dirron 20 – 40 kg Panicum repens,
dll
6. Glifosat 1 – 2 kg Eceng gondok,
Algae, dll
7. Simazine 1 -5 ppm Ganggang
8. 2.4 D 20 – 30 kg/ha Nelumbo spp
9. 2.4.5 T 1 – 15 kg Mimosa pigra, dll
Dari Widyanto dan Soerjani
Pengendalian Gulma 129
c. Metode Biologis
Menyangkut introduksi agen biotik ke dalam suatu areal. Agen tersebut
dapat berupa serangga, tungau, pathogen, siput, ikan atau mamalia.
Contoh:
• Introduksi kumbang Agascicles hygrophyla untuk pengendalian gulma
alligator (Alternanthera philoxeroides).
• Neochetina spp dan Alternaria eichorniae untuk pengendalian eceng
gondok.
• Ikan Ctenopharyngodon idella untuk mengendalikan Hydrilla
verticillata. Tetapi ikan tersebut juga memakan padi.
d. Perpaduan Metode
Pengendalian gulma air dengan meggunakan pendekatan dari berbagai
metode itu ialah pendekatan berdasarkan problem solving secara
interdisiplin dengan perpaduan yang bersifat sinergistik.
Gambar 12.4 Bagan Pengendalian Gulma Air dengan Menggunakan
Perpaduan Metode Pengendalian.
C. Manajemen Gulma Air Jangka Panjang
Merupakan suatu sistem manajemen gulma air yang memanfaatkan semua
teknik-teknik yang cocok untuk mengurangi populasi gulma dan
mempertahankannya di bawah tingkat yang menyebabkan kerugian ekonomi.
Manajemen pengendalian gulma air jangka panjang melibatkan berbagai macam
disiplin ilmu, antara lain ialah dari ahli ekologi, klimatologi, hidrologi, ahli kimia,
enginer, ahli kesehatan masyarakat, ahli perlindungan tanaman dan lain-lain.
Pelepasan ikan
White amur
Ditekan secara
mekanik atau kimia
Populasi gulma
air tertekan
Gulma Air
Pengendalian Gulma 130
Identifikasi masalah
G
Seleksi pengendalian
G
_ Tingkat Perencanaan
- Analisa Dampak Lingkungan
_ Batasi Pertumbuhan vegetasi
- cegah kekurangan O2
- dinas karantina
- tindakan preventif yang lain
_ Latihan, Pendidikan, dan Informasi
_ Tindakan Pengendalian Yang Moderat
- Biologis
- Fisik
- Kimia
Gambar 12.5 Manajemen Gulma Air Jangka Panjang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar